Angkringan

Bagi mereka yang merantau ke Yogyakarta dan tinggal sendiri di kos atau kontrakan bersama kawan-kawan, hari-hari terakhir puasa adalah saat-saat di mana warung angkringan berjasa besar.

Itu karena kebanyakan warung-warung dan tempat makan sederhana yang biasa dijadikan langganan para perantau di sekitar kontrakan dan kosnya tutup karena sang pemilik sudah duluan mudik. Ini biasanya terjadi sekitar 3 – 7 hari sebelum lebaran.

Demikian juga warung-warung burjo khas Kuningan yang serentak ditinggal pulang para penjualnya karena biasanya mereka mengorganisir mudik bareng.

Sehingga yang masih setia menemani buka dan sahur para perantau dan anak-anak kos yang tidak mudik, adalah warung-warung angkringan dengan harga bersahabat yang kadang tidak mengenal hari libur.

Melegakan memang untuk anak kos dan para perantau yang tak mudik, tapi bagaimana dengan para penjual angkringan itu sendiri?

Apakah para pedagang angkringan tersebut, terutama mereka yang merayakan Idul Fitri tidak mudik dan menikmati berlibur dan berkumpul bersama keluarga mereka?

Jangan khawatir, ternyata mereka juga sempat mudik. Biasanya pagi-pagi sekali sebelum subuh mereka sudah berangkat ke kampung halamannya, sholat Ied di sana, berkunjung ke sanak saudara siang harinya, lalu bagi para pedagang angkringan yang berjiwa wirausaha besar, biasanya sebelum Maghrib sudah kembali meluncur ke Jogja untuk mempersiapkan angkringan mereka.

Ini semua sangat mungkin mereka lakukan karena sebagian besar pedagang warung angkringan yang ada di Yogyakarta, kalau tidak berasal dari Klaten, ya berasal dari Gunungkidul. Dua wilayah yang relatif dekat dan ditempuh tidak sampai lebih dari 2 jam perjalanan.

Memang saat ini bagi yang belum terbiasa, tanpa bertanya pada yang bersangkutan, akan sukar menebak darimana penjual angkringan yang kita datangi ini. Apakah berasal dari Klaten atau Gunungkidul?

Tapi dulu sekitar sampai tahun 90-an, jika ceret-ceret yang dipergunakan penjual tersebut tinggi-tinggi, biasanya penjual angkringan tersebut berasal dari Klaten. Namun jika ceret-ceret yang dipergunakan penjual tersebut bentuknya mirip seperti ceret yang sering ditemui di rumah kita sendiri, yang pendek dan agak bulat, kemungkinan penjual angkringan tersebut berasal dari Gunungkidul.

Itu dulu, entah kalau sekarang apakah menggunakan ceret sebagai penanda ini masih valid atau tidak. Berminat untuk mengujinya?

Iwan Pribadi

About Iwan Pribadi

Seorang suami dan bapak, suka sejarah dan membaca, lebih suka lagi menceritakannya pada siapapun yang sudi mendengarkan. Saat ini sedang niat belajar motret. Jangan ragu menyapa lewat @temukonco atau monggo berkunjung ke temukonco.com
3 Comments
  1. Pingback: Ceret Angkringan Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *