Dangdut vs Musik Klasik

Beberapa tahun yang lalu, di suatu sore yang cerah, telinga saya sempat tergelitik mendengar ungkapan itu. Spontan, saya terdiam sesaat mendegar kalimat tersebut.

Seni tak bisa dilepaskan begitu saja dari masalah selera. Seni musik, seni rupa, seni peran, seni apapun. Walaupun, kerap pula seni diperbandingkan dengan semena-mena, menurut saya.

Jujur saja, saya memang tidak suka dangdut. Tapi saya tidak bilang bahwa derajat dangdut berada di bawah derajat musik klasik. Seakan dangdut = bodoh dan musik klasik = pintar. Benarkah begitu?

Apakah orang pintar tidak ada yang menyukai dangdut? Atau… haruskah kita menyukai musik klasik agar bisa dikatakan pintar? Seperti beberapa orang yang mengatakan “Saya suka musik jazz…” agar terlihat sophisticated.

Saya kenal dengan seorang profesor yang sangat pintar. Guru besar dari suatu universitas negeri terkemuka di Jogja. Termasuk ahli di bidangnya. Beliau tidak suka musik klasik. Musik yang beliau dengarkan adalah keroncong, dangdut, dan lagu-lagu pop di era mudanya.

Sedangkan saya, yang bukan siapa-siapa, lebih menyukai musik klasik dibandingkan dangdut. Apakah kenyataan ini lantas membuat kualitas hidup saya jauh lebih baik dari pada sang profesor?

Menurut saya, musik – seperti juga seni lainnya – adalah masalah selera. Mereka tidak bisa begitu saja diperbandingkan dengan melihat aliran mereka. Mana yang lebih baik antara lukisan surealis dengan lukisan abstrak? Mana yang lebih baik antara film action dengan film komedi? Atau seperti yang tadi, mana yang lebih baik antara dangdut dengan musik klasik? Semua memiliki sejarah dan muatan budayanya sendiri-sendiri.

Ini mirip dengan makanan. Semua berkutat pada masalah selera. Sulit ketika kita harus menentukan mana yang lebih baik, steak atau empal goreng? Atau lebih luas lagi, mana yang lebih enak, asin atau asam?

Saya lebih suka asam dari pada asin. Tapi selera orang lain jelas boleh berbeda. Tidak lantas si penyuka asam lebih superior dibandingkan si penyuka asin.

Mungkin lebih baik bila membandingkan musik dalam aliran yang sama. Musik klasik dengan dua kunci sederhana dibandingkan dengan musik klasik dengan 11 variasi kunci, lengkap dengan dua kali transformasi nada dasar, misalnya. Ini pun tidak berarti yang dua kunci lebih inferior. Hanya saja mungkin lebih sederhana, sehingga lebih mudah diterima oleh orang awam. Dan lebih mudah untuk dimainkan.

Ingatan saya lantas melayang pada suatu malam, beberapa tahun yang lalu. Saat itu radio di dalam mobil memutar musik elektronik – musik dugem jedag-jedug – yang kebetulan tidak cocok dengan kuping saya.

Spontan, saya ubah frekuensinya sambil berkata, “Lagunya jelek.”

Teman saya, yang sedang menyupir dan duduk di sebelah saya, dengan tak kalah spontan menimpali ucapan saya, “Salah kamu kalau bilang lagu ini jelek. Kalau ngga suka, bilang saja ngga suka. Banyak juga yang bilang lagu ini bagus.”

Mungkin dia sedikit tersinggung, entahlah.

Tapi ucapannya ada benarnya. Sesuatu yang tidak saya suka bukan berarti lantas menjadi jelek. Ini hanyalah masalah selera.

Sayangnya sore itu saya tak berani menimpali perbandingan dangdut vs musik klasik a la teman saya tadi. Selain karena umur kami yang terpaut jauh, pengetahuan saya di bidang seni juga amat sangat terbatas. Pengecut.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *