Gudeg Tak Hanya Milik Gori

Saya setuju. Atau mungkin lebih tepatnya gudeg adalah jenis masakan, seperti gulai misalnya. Selama ini gudeg memang dikenal sebagai makanan yang berbahan dasar gori (nangka muda). Hanya menyebutkan kata ‘gudeg’ itu saja, yang terbayang adalah nangka muda. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.

Gudeg sendiri adalah sebuah masakan. Cara masaknya dan bumbunya yang seharusnya menjadi ciri khasnya. Sementara, bahan dasarnya tidak harus menggunakan nangka muda. Saya menyamakan gudeg ini seperti gulai tadi. Cara masak dan bumbunya sama, tapi gulai bisa dimasak menggunakan daging ayam, daging kambing, hingga nangka muda.

Berbeda dengan gulai, kemunculan gudeg-gudeg yang menggunakan bahan lain harus menyebutkan bahannya tersebut agar tidak merujuk pada gudeg gori tadi – contohnya seperti gudeg manggar. Ini karena pikiran kita sudah terkonstruksi bahwa gudeg adalah gori yang rasanya manis.

Sebenarnya masih banyak bahan yang bisa dimasak gudeg. Dalam sebuah buku penelitian gudeg yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Makanan Tradisional – UGM, selain gudeg manggar, disebutkan pula bahwa gudeg kerap dibuat menggunakan bambu muda.Yang jelas, awalnya gudeg memang lekat dengan bahan-bahan yang ‘seadanya’ dan mudah di dapatkan di sekitar rumah.

Inovasi pertama yang saya temui langsung ada di rumah makan Jejamuran dulu kala dengan gudeg jamurnya. Saya katakan inovasi karena jamur tampaknya tidak dapat dimasukkan sebagai bahan yang ‘seadanya’. Inovasi terakhir muncul dari Paprika Restaurant di Hotel Phoenix yang menyajikan 9 varian gudeg untuk menu sarapannya, yaitu gudeg manggar, gudeg jamur, gudeg rebung, gudeg daun ketela, gudeg daun pepaya, gudeg jantung pisang, gudeg ketela rambat, gudeg singkong, dan gudeg kecipir.

Nah, setelah tahu bahwa gudeg itu tak melulu harus berbahan gori, bisa saja kita berkreasi dan muncul gudeg-gudeg lain yang bisa ikut meramaikan pergudegan di Yogyakarta.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *