Honje di Jogja

Honje alias kecombrang adalah salah satu bahan rempah yang kerap digunakan pada masakan tradisional Indonesia. Wanginya khas dan buahnya bisa memberi sentuhan rasa masam yang menyegarkan dalam suatu masakan. Bunga honje sendiri digunakan ketika masih berupa kuncup, biasanya dicampur dalam sambal atau untuk lalapan.

Di Jogja, honje memang jarang (bahkan sepertinya tidak pernah) ditemukan pada masakan tradisionalnya. Mungkin, aroma dan rasanya kurang cocok dengan makanan tradisional Jogja yang didominasi oleh rasa manis. Tapi, honje – baik buah maupun kuncup bunganya – banyak digunakan pada masakan-masakan tradisional di daerah lain, seperti di Karo, Jawa Barat, Banyumas, Pekalongan, hingga Bali dan Sulawesi Selatan.

Walau begitu, di Jogja sendiri honje bisa dicicipi di beberapa tempat makan. Salah satunya adalah Honje Resto yang terletak di Jl. P. Mangkubumi no 125 – yang dari namanya, dapat ditebak bahwa resto ini menyediakan menu-menu berbahan honje. Meski kebanyakan menunya adalah menu fusion, beberapa menu Honje Resto menyuguhkan masakan berbahan honje. Beberapa di antaranya adalah Nasi Goreng Honje, Nasi Ayam Honje, dan Sup Buah Honje. Honje Salad adalah satu-satunya menu fusion yang menggunakan honje – yang diolah menjadi sauce untk dressing-nya. Karena tidak adanya pemasok honje di Jogja, untuk mendukung pasokan honje yang dibutuhkan, Honje Resto bahkan membuat perkebunan honje mereka sendiri di daerah Godean.

Karena aroma dan rasanya ini, honje memang tidak semudah itu untuk dipadukan dalam sembarang resep-resep masakan yang ada. Seperti diakui oleh wakil dari Honje Restaurant, aroma dan rasanya harus dipadukan dengan hati-hati.

“Bisa jadi unik, tapi bisa juga malah jadi rusak rasanya,” ujarnya.

Nah, dengan makin dikenalnya honje sebagai salah satu bahan masakan tradisional, siapa tau suatu saat nanti ada yang berani untuk memadukan honje ini dengan masakan tradisional Jogja. Brongkos honje, mungkin?

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.
2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *