Matamati Jemek Supardi, Sederhana dan Sarat Makna 09/02/2008 10:21
Bicara soal kreativitas dan berkesenian, rasanya sayang bila melewatkan pentas pantomim yang diadakan Taman Budaya Yogyakarta jumat malam kemarin (8/2). Menghadirkan jemek supardi sebagai lakon utama, Matamati ini dipentaskan dalam rangka kerinduan Jemek Supardi untuk kembali berpantomim.
Walau hujan beberapa kali sempat mengguyur, Amphiteater Taman Budaya tetap dipenuhi penonton yang sudah menunggu penampilan Jemek Supardi dan kawan-kawan. Malam itu, Jemek Supardi tidak bermain sendirian, Broto Wijayanto menjadi lawan mainnya. Ocan, Bagus dan Tedjo Badut pun turut memeriahkan pentas pantomim yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut.
Judul Matamati sengaja dipilih jemek dalam pementasan nya kali ini karna besarnya dorongan jiwa sosial dan keprihatinannya pada bangsa Indonesia. Jemek merasa, saat ini banyak manusia yang memiliki mata tetapi tidak pernah menggunakan matanya dengan baik. Sehingga manusia banyak yang tidak dapat mana yang benar dan mana yang salah. Ini karena manusia sudah tidak lagi menggunakan mata hatinya. Meski mata lahiriahnya melihat, namun mata batinnya buta.
Ironi yang berbeda pun disajikan dalam pentas pantomim ini. Digambarkan seorang yang meskipun matanya buta namun ia dapat menggunakan mata hatinya dengan baik. Sehingga ia merasa tidak pernah berada dalam kegelapan, walau kenyataanya kegelapan adalah teman dekatnya.
Di akhir pementasan, dapat ditangkap pesan bahwa jika kegelapan menyelimuti kehidupan kita, maka hanya cahaya lentera hati lah yang akan menunjukkan jalan kebenaran.
"Acara yang juga bertujuan untuk menumbuhkan minat berkesenian dalam berpantomim ini nantinya diharapkan akan muncul generasi-generasi muda baru yang akan menjadi penggiat seni berpantomim di masa depan, mengingat seni pantomim saat ini mulai pudar dalam masyarakat," ungkap Eko Nuryono selaku pimpinan produksi sekaligus sutradara pentas pantomim Jemek Supardi. (ina)