Rackelku Sayang Rackelku Malang, Potret Seni Spontanitas 11/02/2006 20:34
Bentara Budaya sekali lagi menjadi saksi bertambahnya karya seni di Jogja. Melalui kemampuan seni fotografi yang dimiliki Tarko Sudiarno, sebuah obyek yang tidak dipandang menjadi karya yang artistik. Berangkat dari kejelian Tarko menangkap nilai seni yang terdapat di sebuah pabrik sablon terbesar di Indonesia yang terletak di Malang, pameran foto ini diadakan. Pabrik yang terdiri dari beberapa blok bangunan dengan dinding yang amat panjang di tiap blok itu pun menjadi obyek seni Tarko.
Dinding-dinding pabrik tersebut memang dipenuhi dengan coretan, dan juga lepotan cat yang dilakukan oleh para buruh pabrik itu di kala senggang. Selain itu, di sana-sini terdapat gambar yang menyerupai lukisan, dilakukan bukan untuk menciptakan karya seni tertentu, namun hanya sebagai bentuk keisengan mereka. Kombinasi dari semua itulah yang diperhatikan secara detail dan rinci oleh, lalu diangkat menjadi gambar yang berseni.
Rackelku Sayang Rackelku Malang menjadi judul yang dianggap tepat oleh Tarko. Hal itu memberikan analogi antara kehidupan para buruh dan rackel (alat sablon) yang memiliki sukacita dan dukacita. Jika diamati dalam-dalam, coretan-coretan di dalam foto bercerita tentang nasib, pergulatan, dan impian para buruh pabrik itu. Pengunjung akan sangat terbantu oleh judul dari setiap gambar yang terpajang, antara lain Setan Jedhing, Musuh Kematian, serta Anak Malang. Judul tersebut merupakan intepretasi yang dimiliki oleh Tarko bersama dua kuratornya, Romo Sindhunata dan Herry Budiono.
Pameran foto yang dilaksanakan dari tanggal 10-16 Februari ini dibuka oleh Romo sindhunata Jumat malam (10/2). "Tanpa fotografi Tarko, tidak mungkin sudut-sudut itu ditembak dengan jeli dan menjadi karya yang memiliki nilai seni," ujar Romo Sindhunata dalam pidato pembukanya mengenai latar belakang pameran tersebut. Kemudian secara simbolis, M.Ptrus, seniman sahabat Tarko membuka pintu galeri Bentara Budaya dan mempersilakan pengunjung untuk menikmati 50 foto yang dipajang.
Sebagai hiburan, orkes Sinar Pangunci dari Solo hadir dengan lagu-lagu segala jaman dan indah didengarkan. Tarko sudiarno yang malam itu menggunakan pakaian santai, yakni kaos putih berkerah, celana pendek, serta bertopi terlihat gembira dengan antusiasme masyarakat yang ingin melihat karyanya. Ditanya mengenai foto-foto yang diambilnya setengah tahun yang lalu itu, Tarko mengatakan, "Lihat ini itu luar biasa, saya langsung terangsang untuk memfotonya."
Fotografi telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak SMA dan dengan kemampuannya itu pula, ia menjadi wartawan Jakarta Post hingga saat ini. Rackelku Sayang Rackelku Malang adalah pameran tunggalnya yang ketiga. Sebelumnya, ia pernah mengadakan pameran tunggal di Lembaga Indonesia-Perancis Jogja (LIP) dan Culture Center French (CCF) di Jakarta. (tie) |