Keiko Dance Company Indonesia Tour 2006, Di Antara Tradisi dan Masa Kini 13/05/2006 11:50
Tarian indah yang menghibur tak hanya dimiliki oleh Indonesia. Terbukti dengan tarian Jepang yang dipentaskan pada Jumat malam (12/6) di Lembaga Indonesia Perancis, Sagan Jogja. Pentas tari yang dilakukan oleh Keiko Takeya bersama Keiko Dance Company tersebut menghadirkan 5 judul tarian, Kalavinka, Festival Kanda, Passion -Pemandangan Dalam Do'a, Fuji Mususme, dan Misalkan Bunga Camellia.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini merupakan pementasan Keiko Takeya dalam rangka Indonesia Tour. Keiko Takeya yang pada tahun 1993 pernah berkunjung ke Indonesia kembali hadir bersama Mitateru Bando, Terushi Bando, Omote Hanayagi, dan Omomo Hanayagi.
Dalam tarian Kalavinka yang menggambarkan sebuah burung, Keiko Dance Company ingin menceritakan salah satu kebudayaan Jepang. Burung tersebut adalah burung dari surga yang berwajah wanita cantik dan biasa dikenal sebagai perumpamaan dari Sang Buddha. Selain Kalavinka, tarian Festival Kanda juga berhasil memukau penonton. Bahkan menghadirkan gelak tawa di tengah kegemulaian Mitateru Bando menggerakkan tubuh. Tarian tersebut menceritakan mengenai festival rakyat yang diadakan pada jaman Edo (1603-1867).
Tarian Passion - Pemandangan Dalam Doa yang menceritakan mengenai wanita yang sedang berdoa ini terdiri dari 4 bagian. Di tiap bagian menampilkan satu versi wanita yang berdoa dengan latar lokasi yang berbeda. Karya ini merupakan karya revisi yang sebelumnya pernah dipentaskan pada Keiko Solo Project di Tokyo pada tahun 2004 lalu. Berbeda dengan tarian yang lain, tarian Fuji-Musume merupakan tarian tradisional Jepang yang sangan mewakili tradisi Jepang. Tari ini menceritakan sebuah sosok gadis manis bertopi hitam dan sendal merah yang bersandar pada cabang fujoi yang sedang mekar. Sosok gadis tersebut berada dalam sebuah lukisan bergaya Otsue yang lahir pada tahun 1624.
Pentas tari pun ditutup dengan penampilan dari Keiko Takeya yang berjudul Misalkan Bunga Camellia. Tarian menggunakan setting sebuah pemandangan sunyi di pinggir kota Tokyo, halaman kecil dengan bunga Camellia serta plum yang dapat terlihat dari pintu kayu tradisional. Keiko Takeya yang merupakan koreografer ternama dari Jepang berhasil memaku perhatian penonton dengan berbagai karya tariannya. Dan pada pementasan tersebut, Keiko Takeya juga berhasil menunjukkan perpaduan yang indah antara kegemulaian tubuh, ekspresi wajah, serta cerita.
Kehebatan Keiko Takeya tidak hanya terlihat dari keindahan dalam mementaskan atau dalam menciptakan sebuah tarian. Keiko Takeya mampu menguasai panggung meskipun sempat terjadi kesalahan dalam pemutaran lagu pengiring tariannya. Acara yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam ini juga diramaikan dengan pentas tari dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, yang dikoreograferi oleh Djaduk Ferianto. Selain di Jogja, Indonesia Tour 2006 ini juga diselenggarakan di berbagai kota lain di Jawa, antara lain Surakarta, Tegal, Jakarta, dan Bandung. (dit) |