Sate Karang, Ikon Kelezatan Kotagede 17/01/2006 09:40
Kotagede bukan melulu perak. Bagi pecinta kuliner Jogja, Kotagede berarti Sate Karang, sate daging sapi legendaris yang kelezatannya seolah tak terpisahkan dari ibu kota kuno Kerajaan Mataram ini. Kenapa dinamai Sate Karang? Itu karena sate spesial ini dijajakan di pinggiran Lapangan Karang, Kotagede. Bila Anda awam dengan Kotagede dan ingin menjajal kenikmatannya, saya sarankan Anda langsung bertanya kepada penduduk Kotagede di manakah letak Lapangan Karang ini. (karena terus terang saya sendiri 'orang asing' sehingga agak kebingungan untuk menerangkannya)
Tidak berlebihan bila Sate Karang dikatakan sebagai pusaka kuliner Kotagede. Bagaimana tidak? Sate daging sapi ini sudah dijual di Kotagede sejak Indonesia belum merdeka. Waktu itu namanya bukan Sate Karang dan masih dijajakan keliling Kotagede dengan pikulan oleh Mbah Karyo, generasi pertama yang berdagang sate sapi ini. Konon kabarnya, pada tempo doeloe pun Sate Mbah Karyo ini sudah menjadi favorit masyarakat Kotagede. Pada tahun 1984, sate keliling ini mulai parkir di pinggir Lapangan Karang sehingga mendapatkan labelnya yang sekarang ini.
Hebatnya, hingga generasi ketiganya saat ini, cita rasa sate legendaris ini tetap terjaga sesuai dengan resep paten Mbah Karyo berpuluh tahun yang lalu. Rasa asli sate ala Mbah Karyo yang empuk dan gurih ini dijamin akan menorehkan kenangan kelezatan yang mendalam di dalam hati anda. Tidak cukup sampai di situ, untuk melengkapi gempuran kenikmatan dari pinggir Lapangan Karang ini, lontong berkuah opor tempe (yang lagi-lagi kreasi Mbah Karyo) akan menjadi teman makan yang tiada duanya. Bumbu kacang sate yang pekat bereaksi dengan kuah opor yang encer menghasilkan perpaduan nuansa rasa manis-gurih dengan keharuman rempah yang khas.
Namun ternyata memang ada harga lebih yang harus dibayar untuk ketenaran dan popularitas. Saya takjub waktu mengetahui satu porsi sate sapi sepuluh tusuk ditambah lontong kuah membuat saya harus merogoh Rp 14.000 dari dompet. Asal tahu saja, itu nominal yang cukup mahal menurut ukuran saya, maklum mahasiswa. Selain itu, karena keterbatasan tikar untuk duduk lesehan (padahal pengunjungnya banyak), terkadang mencari tempat duduk adalah suatu petualangan tersendiri. Bahkan bila hujan, praktis areal lesehan warung sate yang buka dari pukul 17.00 hingga 22.30 itu menjadi basah dan tak nyaman diduduki.
Jadi saran saya, rencanakan wisata kuliner anda ke Sate Karang pada malam yang kering dan cerah. Mungkin Anda bahkan bisa membawa tikar untuk mengantisipasi jumlah penggemar yang berlebih, apalagi jika datang bersama banyak teman untuk mencicipi warisan pusaka budaya ikon kuliner Kotagede ini. Terdengar tidak praktis memang, namun saya jamin Anda tidak akan pernah melupakan momen spesial piknik malam hari di pinggir Lapangan Karang sambil menyantap sate lezat yang melegenda ini. (ang) |