Senjata Rahasia Angkringan Pak Parjo 14/02/2006 20:36
Akhirnya setelah beberapa episode wisata kuliner pesiar ke tempat-tempat tidak ramah dompet dan membuat kantong jebol, Saya kembali ke fitrah, kembali ke asal . . . menjelajah tempat makan murah meriah yang unik dan menarik. Lho, tapi kenapa memilih angkringan? Jangan skeptis dulu, karena angkringan yang satu ini punya senjata rahasia ampuh yang jarang ditemui di angkringan lainnya.
Semua berawal dari seorang reporter trulyjogja yang punya wawasan luas di sektor kuliner yang bergenre 2 ng, 'ngere lan ngemproh' (terjemahan bebas: murah dan akrab). Dia menyebar isu tentang keberadaan sebuah angkringan yang punya beverage khusus yang spesial dan langka, sari dele (kedelai) tape. Akhirnya Ibu Pemred termakan gosip menggiurkan itu dan menginstruksikan awak trulyjogja untuk plesir ke Angkringan Pak Parjo.
Angkringan Pak Parjo terletak di pusat kota dan susah-susah gampang untuk ditemukan, karena selayaknya angkringan, Pak Parjo jelas tidak memasang papan nama dan daftar menu di depan gerobaknya. Patokan awal untuk menuju ke sana adalah Plengkung Wijilan, sebuah pintu gerbang berbentuk semi terowongan yang terletak di sebelah timur Alun-Alun Utara Kraton. Dari plengkung tersebut, ambil jalan lurus terus ke Selatan sampai Anda memasuki jalan Gamelan. Perhatikan sebelah kanan (barat) jalan, bila ada tenda angkringan berwarna coklat, berarti Anda telah menemukan kafe Pak Parjo.
Malam itu Saya pesiar bersama segerombolan teman dari trulyjogja dan beberapa teman kuliah, semuanya ada tujuh personil. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat ketika kami tiba di sana. Melihat rombongan kami yang cukup besar, mas-mas baik hati pengunjung angkringan sadar diri dan segera berlalu untuk memberi tempat. Segera saja tenda angkringan yang tadinya tenang terisi oleh canda ria tak bermutu ala mahasiswa.
Angkringannya terasa menyenangkan dengan aura Kraton yang kental dan penerangan senthir yang temaram. Sambil comot sana-sini kami segera memesan. Ternyata, sari delenya tidak cuma berjodoh dengan tape, jadi saya pesan sari dele jahe hangat. Sembari menunggu minuman, saya menemukan sebuah panganan unik berupa jadah (panganan dari ketan) yang dipanggang dan berisi potongan dodol yang manis dan lengket. Lumayan membuat ketagihan, apalagi ketika sari dele jahe yang mengepul penuh kehangatan sudah datang dan saya seruput dengan hati-hati.
Pada awalnya Saya tak percaya kalau ini adalah sari kedelai, karena rasanya manis dan nikmat, nyaris seperti susu sapi dan sama sekali tidak ada aroma langu khas susu kedelai. Jahenya yang diiris tipis-tipis menguarkan aroma segar yang menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi karena ternyata segelasnya cuma Rp 1000! Saya nyaris menangis bahagia. Memang beginilah seharusnya Jogja!
Tapi air mata bahagia saya akhirnya benar-benar tak tertahan lagi karena sang reporter ahli 2 ng yang baik hati, tidak sombong dan baru mendapat honor rela mentraktir kami semua. Ah, bahagianya hidup ini. (ang) |