Serbuan Tengah Malam ke Gudeg Pawon 02/05/2006 12:48
Para pembaca sadar nggak sih, kalau wisata kuliner belum pernah membahas gudeg? Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa ikon Jogja yang super beken ini malah belum pernah tampil. Bukannya karena saya nggak suka gudeg, tapi menentukan pilihan di antara sekian banyak maestro gudeg di Kota Gudeg jelas bukan hal yang mudah. Saya harus cari yang benar-benar unik dan spesial. Kalau cuma enak, rata-rata gudeg yang ramai pengunjung pasti enak, dan itu jumlahnya banyaaaaaak sekali. Di tengah kebuntuan, seorang rekan memberi info menantang. Ada tempat rahasia untuk makan gudeg enak yang buka larut malam dan jualannya di dapur rumahnya sendiri.
Waaah, imajinasi saya segera melayang ke dapur simbah di kampung halaman yang berlantai tanah dengan tungku batu menebarkan harum kayu bakar. Karena jualannya di dapur, gudeg di Jl.Dr.Soepomo (atau Jl.Janturan) yang sudah beroperasi sejak 1952 ini beken dengan sebutan Gudeg Pawon (dapur). Karena konsepnya yang nyleneh ini, segerombolan teman dari trulyjogja memaksa minta diajak kalau saya liputan. So, there we were, datang jam sebelas malam ke lokasi dan kecelik (tertipu) karena ternyata gudegnya baru akan buka jam setengah duabelas. Ketika kembali ke lokasi jam 23.45, jalanan yang tadinya lengang tiba-tiba sudah dipenuhi motor yang parkir. Wah, rupanya bukan cuma kami yang merencanakan invasi tengah malam.
Ternyata pawonnya tidak terlalu jauh dengan bayangan saya, sayangnya lantainya semen. Di atas tungku kayu bakar ada wajan hitam raksasa yang menggelegak dan dandang penanak nasi besar dengan kukusan anyaman bambu. Para fans yang sedang menanti jatah sabar menunggu sambil duduk-duduk di kursi plastik. Setelah pesan, kami duduk di meja makan besar di luar. Atmosfer yang akrab dan tampilan tempat yang sangat bersahaja membuat suasana semakin nyaman.

Yang mengejutkan, tidak seperti gudeg khas Jogja yang 'beraliran hitam' dan bercitarasa manis, Gudeg Pawon bermahzab gudeg putih. Kuah santannya yang kental (areh) berwarna terang dan cita rasanya sangat gurih, tapi tidak manis. Hal ini jelas kabar gembira bagi anda sekalian yang menganggap gudeg tidak layak makan saking manisnya. Ayam kampung pelengkapnya empuk dengan telur blondonan (bunder) yang mantap. Sayur krecek kenyal yang pedas semakin menyempurnakan sensasi rasa hidangan sepinggan andalan Jogja ini. Namun harap hati-hati karena banyak ranjau cabe rawit yang dijamin bakal mengejutkan kalau tergigit.
Kekurangan Gudeg Pawon adalah terbatasnya tempat makan. Selain itu, biasanya jatah gudeg untuk para penggemar sudah habis pada jam tiga pagi, bahkan jam dua kalau sedang ramai-ramainya. Karena serbuan pengunjung semakin menggila, kami segera angkat kaki setelah membayar Rp 41.000 untuk lima orang. Tapi memang itulah ciri khas warung gudeg yang enak, selalu ada kompetisi ketat untuk sekedar mencicipi kenikmatan hasil karya sang empu gudeg. (ang)
 |