Brongkos Lezat Untuk Para Karnivora 29/05/2006 18:31
Membaca cerita saya tentang brongkos Handayani yang cuma terdiri dari kacang tolo, tahu dan kulit tangkil, seorang teman protes keras. "Di tempatku yang namanya brongkos tuh isinya daging sapi! Masak yang berpola vegetarian gini dibilang brongkos?" Saya, si penulis ecek-ecek yang suka makan ini (ingat, sama sekali berbeda dengan ahli kuliner!"), cuma bisa gelagapan dan menjawab dengan tidak meyakinkan, "Di menunya emang namanya brongkos kok." 1 - 0 untuk kekalahan jurnalis tukang makan.
Namun ternyata brongkos ala karnivora yang berisi daging memang bukan isapan jempol. Rekan truly sang ahli makanan '2 ng' (ngere lan ngemproh = murah dan asik) menyalakan pelita di tengah kegelapan hati saya. Ada warung brongkos yang ternyata nggak kalah bekennya, tapi posisinya nun jauh di perbatasan DIY - Jateng. Namanya Warung Ijo Bu Padmo. Tempatnya ada di Pasar Tempel, di bawah Jembatan Krasak yang menghubungkan wilayah DIY - Jateng. Warungnya yang hijau nyempil di tengah kios-kios pasar lainnya.
Meskipun super beken, warungnya benar-benar mungil dan sempit. Awak trulyjogja segera menghabiskan satu bangku panjang dan membikin ribut di dalam warung. Saya memesan brongkos plus tahu. Dari warna, bau, dan tampilan, brongkos yang ini nggak ada mirip-miripnya dengan brongkos kacang tolo favorit saya. Dan nasinya agak minimalis untuk porsi saya. Tapi rasanya . . .
Maksimal! Memang beda dengan brongkos vegetarian. Yang ini santannya lebih kental. Aromanya khas masakan daging dengan keharuman rempah yang menghanyutkan. Rasanya gurih dengan cubitan rasa pedas yang membuat tidak enek. Dagingnya empuk dan lumayan banyak, satu porsi nasi jelas kurang untuk mengimbangi semua daging ini. Secara keseluruhan, brongkos pemakan daging ini enak banget, meskipun sepertinya lebih cocok untuk makan siang karena citarasanya yang lebih 'berat'.
Harganya juga lebih berat. Delapan ribu satu porsi, dengan tambah nasi dan minum jadi sepuluh ribuan. Warung ijo yang ijonya mirip-mirip ijo trulyjogja (ge-er) ternyata sudah lumayan lama berproduksi. Sudah 50an tahun! Dan yang lebih keren, Bu Padmo masih ada dan masih sering mengecek keaslian rasa brongkos yang layak mendapat titel pusaka kuliner Jogja ini. Tapi harap diingat, meskipun beken dan cukup mungil, warung yang satu ini tidak buka cabang lho! (ang) |