Rayuan Maut Sate Kambing Pak Nano : How Hot Are You? 10/07/2006 10:27
Sepertinya sudah lamaaa sekali wisata kuliner tidak pernah menampilkan lagi tempat makan yang bisa membuat kita menangis, mandi keringat, hidung meler dan megap-megap karena kepedasan. Namun jangan khawatir, karena kerinduan Anda akan segera terpuaskan dengan cara yang dahsyat! Kali ini giliran Ibu Pemred yang memberi bocoran sebuah tempat makan yang dengan ikhlas membuang-buang stok cabenya untuk memuaskan pelanggan : Sate Kambing Pak Nano.
Sate kambing Pak Nano menyediakan berbagai macam hidangan kambing seperti tongseng, gule dan nasi goreng. Letaknya tepat di tepi Ring Road Selatan (lihat denah), Desa Tirtonirmolo no. 90. Warungnya benar-benar sederhana dan tidak memasang papan nama yang mencolok, jadi jangan sampai kelewatan. Saking sederhananya anda pasti bertanya-tanya, "Beneran nih tempatnya ?". Tepat seperti itulah reaksi saya ketika pertama datang ke sana. Melihat warung yang biasa saja saya merasa agak tertipu . . . Maklum saja, untuk sampai ke tempat Pak Nano saya dan Bu Pemred harus bermotor di bawah terik matahari dari kantor trulyjogja nun jauh di Condongcatur sana.
Tapi ternyata warung ini sudah punya nama di kalangan pemuja kepedasan, bahkan kerap menjadi tempat transit bagi wisatawan Korea yang terkenal suka pedas. Memangnya seberapa pedas sih? Jangan tanya seberapa pedas, karena di tempat Pak Nano tidak ada batasan untuk pedas. Anda sendirilah yang menentukan seberapa HOTnya Anda dengan sistem HOT by request. Koq bisa begitu ya?
Rupanya Warung Pak Nano memakai cara yang sudah lama dipakai warung lotek dan rujak. Pedasnya hidangan bisa diatur sesuai banyaknya cabe yang Anda inginkan. Saya yang memesan tongseng meminta Pak Nano menambahkan 10 buah cabe untuk membakar indra perasa saya.

"Cuma 10 ?", tanya Beliau. (dengan senyum yang menurut saya melecehkan) "Ya udah, 15 !", saya membalas dengan sombong. "Wah, cuma level SMP tho !", tandas si Bapak dengan senyum yang ternyata memang melecehkan.
Kalau Anda mengaku doyan pedas, perlakuan seperti itu pasti benar-benar membuat panas luar dalam. Akhirnya saya memberanikan diri, "Yo wis, 20!". Pak Nano menyambut dengan senyum puas yang (tampak) tulus. Duh, jangan-jangan saya sudah terjebak rayuan maut nih!
Untuk info saja, saya memang suka pedas. Tapi kalau untuk masalah HOT by request, di warung lotek paling-paling saya cuma minta cabe 7. Jadi terus terang saja, angka 20 benar-benar sesuatu yang baru dan menantang. Namun perasaan kontan ketar-ketir melihat cabe-cabe pendek-gemuk berwarna merah kuning mengancam yang dirajang si Bapak dengan kecepatan super. Yah, let it be lah !
Sementara itu, Bu Pemred yang anti-pedas menerima saja dengan lapang dada julukan play group karena cuma minta cabe satu untuk satenya. Kalau Anda ingin jadi bayi, pesan saja hidangan non cabe (cuma pakai merica). Jangan perdulikan segala daya upaya Pak Nano untuk menggoyahkan hati Anda! Ingat, sesal kemudian tiada guna.
Sambil mengipasi anglo, Pak Nano cerita kalau kemarin baru kedatangan rombongan S3 (para penikmat cabe 30an). Tapi itu belum seberapa, karena ada pelanggannya yang nggak tahu mau dikasih gelar apa karena biasa minta cabe 60! Tapi yang paling hebat tetap Sang Mentalis no.1 Indonesia, Dedi Corbuzier. Dia pernah mampir ke warung Pak Nano dan minta cabe satu. Hah, apa istimewanya? Jelas istimewa, karena dia minta SATU RANTANG !
Pak Dedi pasti punya ilmu tertentu untuk menanggulangi satu rantang cabe. Tapi saya yang orang awam cuma bisa menahan nafas melihat hasil perbuatan saya : satu piring tongseng mengepul dengan hiasan cabe merah rajangan di mana-mana. Namun entah bagaimana, timbul perasaan aneh yang merupakan gabungan hasrat dan ketakutan di dalam diri saya. Bulu kuduk yang meremang segera diikuti dengan air liur yang tiba-tiba memenuhi mulut dalam rangka antisipasi. Tarik nafas panjang, . . . selamat makan !
Wah, ternyata duapuluh biji cabe tidak semenakutkan yang saya kira . . . itu hanya pada awalnya! Ketika suapan kesekian, keringat dingin tiba-tiba mengucur diikuti air mata dan hidung meler, fiuuhhh. Tongseng super pedas ini betul-betul dahsyat dan mantap! Meskipun pedas, citarasa tongseng yang sedikit manis dan beraroma kecap masih terasa merangsang. Merica yang tajam menusuk juga turut menambah kenikmatan. Apalagi daging kambingnya tidak prengus. Pokoknya Pak Nano no.1!
Warung Pak Nano buka jam 12 siang hingga sehabis Maghrib. Paling aman Anda datang di sore hari daripada kehabisan. Untuk satu porsi tongseng, sate atau gule, Anda cukup membayar Rp 10 ribu saja. Saya masih nggak jelas, apakah ada biaya ekstra untuk jumlah lombok yang ekstrim. Mungkin Anda harus coba sendiri, syukur-syukur kalau bisa menyaingi Dedi Corbuzier. (ang)
 |