Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

jogja dan semua tentang yogyakarta Halaman Utama | Profil | Kontak
Search :
  Beriklan | Peta Situs
jogja dan semua tentang yogyakarta
jogja dan semua tentang yogyakarta
Jelajah Trulyjogja.com
Wisata  
Wisata kuliner  
Oleh - oleh  
Sosial Budaya  
Universitaria  
Komunitas  
Berita dan Hiburan  
Everyday Life  
Transportasi  
Agenda  
Luar Jogja  
Kolom Komunitas  
Info Extra  
Indie Corner  
Akomodasi  
Media  
Layanan Publik  
Peta Jogja  
Iklan  
Photogallery  
Zodiak  
Forum  
Tips  
 
Index Berita  
 



Layanan Publik
 RS Sarjito 0274 - 587333 
 Polsekta Wirobrajan 0274 - 374832 
 Polsekta Umbul Harjo 0274 - 373916 
 Polsek Depok, Sleman 0274 - 566488 
 RS PKU Muhammadiyah YK 0274 - 512653 
 RS Panti Rapih 0274 - 563333 
 RS Mata Dr.Yap 0274 - 562054 
 RS Bethesda 0274 - 562246 
 SAR DIY 0274 - 562 811 
 Polda DIY 0274 - 563494 
Kalender Agenda
September
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


Agenda Rutin
Everyday Life
Orang Jawa yang Beruntung
"Kemarin pas mau ketemu klien, ban motorku ndadak bocor. Padahal udah ampir telat. Untung aja bocornya nggak jauh dari tukang tambal ban," ujar Tono.

more ]

 
 Ketika hujan dan hawa terasa dingin, Anda lebih suka menyantap...
  
  
  
  
  


 
Anti Fast Food ala Gudeg Wirobrajan
17/07/2006 10:54

Anda semua pasti telah akrab dengan hidangan fast food. Hidangan cepat saji yang biasanya franchise dari mancanegara ini bisa ditemui di berbagai tempat di Kota Jogja dan sudah menjadi hal yang sangat biasa. Tapi bagaimana dengan slow food? Hidangan lambat saji? Saya kira istilah ini tidak begitu akrab dengan kita. Bahkan saya baru "menemukan" dan menyadari istilah ini setelah saya menjajal sebuah lesehan gudeg istimewa di Jl. Wirobrajan.

Dari pertama, teman saya yang tahu tempatnya sudah wanti-wanti, "Ini gudeg lelet lho, beneran nggak papa?", katanya berusaha menguji pendirian kami. Namun karena ingin membuktikan sendiri seberapa lambretanya gudeg ini, kami manut saja ketika diajak menyusuri Jl. Wirobrajan menuju lesehan gudeg yang sudah sejak lama dipromosikan olehnya itu. Lesehannya terletak tepat sebelum lampu merah perempatan Wirobrajan, di sebelah kiri jalan (sisi selatan). Gudeg ini buka mulai pukul 20.15. Karena tidak pasang spanduk atau papan nama apa pun, jangan sampai Anda salah sasaran.

Lesehannya mungil sekali, cuma ada dua lembar tikar lusuh terhampar di atas trotoar. Ketika kami berempat tiba, semua tempat sudah penuh. Selain di tikar, orang-orang tampak takzim mengelilingi sang empu gudeg, seorang ibu mungil dengan kebaya dan konde, yang tampak telaten melayani para fansnya itu.  Ketika ada yang sudah selesai makan, saya dan seorang teman segera mengklaim lahan di atas tikar. Sementara itu yang dua lagi mengantri.

Dan akhirnya sebuah penantian panjang pun dimulai . . .

"Kita masih nunggu enam orang lagi", kata teman yang ngantri via SMS. (koq SMS? itu karena kami tidak bisa komunikasi jarak jauh - tepatnya tiga meter - dengan membaca bibir >_<) Sambil menunggu saya ngobrol ditemani teh hangat. Tips yang bermanfaat : jangan sampai Anda datang sendirian ke Gudeg Wirobrajan. Ajaklah orang-orang yang menyenangkan dan berprinsip " Orang sabar disayang Tuhan", niscaya waktu akan terasa cepat berlalu.

Namun setelah setengah jam tanpa kejelasan masa depan dan kaki yang mulai gringgingan (kesemutan) saya menyerah dan ikut ngantri. Tips kedua : perhatikan baik-baik semua orang yang ngantri dan waspadalah kepada orang yang ngantri setelah Anda. Jangan sampai jatah antrian diserobot oleh pendatang baru! Jangan pernah takut bilang "Eh, saya duluan", daripada menyesal seumur hidup.

Sambil antri, akhirnya saya sadar kenapa istilah slow food sangat cocok untuk Gudeg Wirobrajan. Bagaimana tidak? Karena meskipun cuma nunggu enam orang, tapi ada yang mau bawa pulang berbungkus-bungkus. Selain itu, si Ibu yang tampil single fighter juga tampak sangat tenang dan santai dalam melayani. Dengan tangan telanjang beliau mengambil gudeg dan tahu dari dalam kendil. Disusul dengan kegiatan memilih-milih ayam dan menciduk sayur krecek. Terakhir beliau menyiramkan kuah (areh) dengan sendok makan mungil hingga lima kali sendokan. Tidak ada kesan terburu-buru meskipun banyak orang antri di sekelilingnya.

Akhirnya setelah hampir satu jam, pesanan kami pun dilayani. Saya minta porsi raksasa dengan potongan gending (paha atas ayam) yang super besar. Meskipun saya sudah hampir kehilangan kesabaran, si Ibu tampak masih telaten mengaduk-aduk kendil kreceknya mencari krecek untuk saya. "Nggak papa Bu, pake tahu saja", kata saya menahan diri. "Nggak kok, saya yakin tadi masih ada satu", ujarnya sambil terus mengaduk-aduk. Ternyata memang masih ada satu krecek ukuran besar . . . yang didapat setelah beberapa belas kali adukan. Duhhh . . . . sabaaarrr !

Tapi semua penantian terbayar tuntas karena gudegnya memang lezaaaattt! Manisnya nangka muda berpadu sempurna dengan gurihnya kuah santan kental dan pedasnya sayur krecek. Ayam kampung raksasanya juga gurih dan empuk sekali. Karena ini gudeg putih, rasa manis tidak terlalu mendominasi. Kenikmatan semakin lengkap karena kita makan gudeg dengan pincuk daun pisang yang alami.

Tips ketiga : pesan porsi besar supaya acara makan tidak berlangsung terlalu singkat. Anda sudah menunggu lama lho!

Selain pelayanan penuh dedikasi dan rasa yang istimewa, saya sadar faktor lain yang membuat orang-orang rela antri Gudeg Wirobrajan. Harganya ekonomis! Bayangkan, saya makan berempat. Dua orang porsi raksasa dengan ayam yang gede banget, yang dua lagi pakai telor. Selain itu, masih ada sayap dan dada ayam (tanpa nasi) untuk dibawa pulang. Berapakah semuanya? Cuma Rp 31 ribu! Hal yang sangat langka dalam jagat pergudegan di Jogja!(ang)


 

 
Berita Terkait :

Battle of Sego Pecel Part 2 : SGPC Bu Wiryo Strikes Back
Battle of Sego Pecel Part 1 : Variasi Lauk Andalan SGPC Bulak Sumur
Brongkos Lezat Untuk Para Karnivora
Serbuan Tengah Malam ke Gudeg Pawon
Marhaen, Bukan Warung Makan Biasa
Brongkos Handayani, Kesederhanaan Rasa yang Menggoda
Warna-Warni Lombok Ijo Sego Abang
 
Copyright © 2005 trulyjogja.com .
No part of this content or the data or the image or information included therein may be reproduced, republished or redistributed without the prior written permission of TrulyJogja.com

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat