Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat. Info Jogja

jogja dan semua tentang yogyakarta Halaman Utama | Profil | Kontak
Search :
  Beriklan | Peta Situs
jogja dan semua tentang yogyakarta
jogja dan semua tentang yogyakarta
Jelajah Trulyjogja.com
Wisata  
Wisata kuliner  
Oleh - oleh  
Sosial Budaya  
Universitaria  
Komunitas  
Berita dan Hiburan  
Everyday Life  
Transportasi  
Agenda  
Luar Jogja  
Kolom Komunitas  
Info Extra  
Indie Corner  
Akomodasi  
Media  
Layanan Publik  
Peta Jogja  
Iklan  
Photogallery  
Zodiak  
Forum  
Tips  
 
Index Berita  
 



Layanan Publik
 RS Sarjito 0274 - 587333 
 Polsekta Wirobrajan 0274 - 374832 
 Polsekta Umbul Harjo 0274 - 373916 
 Polsek Depok, Sleman 0274 - 566488 
 RS PKU Muhammadiyah YK 0274 - 512653 
 RS Panti Rapih 0274 - 563333 
 RS Mata Dr.Yap 0274 - 562054 
 RS Bethesda 0274 - 562246 
 SAR DIY 0274 - 562 811 
 Polda DIY 0274 - 563494 
Kalender Agenda
September
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


Agenda Rutin
Everyday Life
Orang Jawa yang Beruntung
"Kemarin pas mau ketemu klien, ban motorku ndadak bocor. Padahal udah ampir telat. Untung aja bocornya nggak jauh dari tukang tambal ban," ujar Tono.

more ]

 
 Ketika hujan dan hawa terasa dingin, Anda lebih suka menyantap...
  
  
  
  
  


 
Gamelan, Iringan Musik Dari Masa Majapahit
24/06/2006 10:12

Suara gamelan yang ditabuh dengan apiknya membawa susasana tersendiri bagi para pendengarnya. Bagi masyarakat Jogja, tabuhan instrumen gamelan bukan hal yang asing lagi di telinga. Pada setiap acara wayangan, ketoprakan, dan upacara dalam kraton, tabuhan alat musik ini tidak pernah absen untuk diperdengarkan.

Gamelan berasal dari kata dalam bahasa Jawa 'gamel', yang berarti melakukan. Walau kadang menggunakan vokal dan instrumen berdawai, gamelan sangat mudah dikenali dari banyaknya instrumen metal yang dipakai. Gamelan khas Jawa Tengah terdiri dari saron, gender, gangsa, dan ugal. Bentuknya merupakan lempengan metal, dengan ukuran kecil, yang dijajarkan dalam satu baris.

Selain itu ada pula bonang dan kenong yang bentuknya mirip genderang serta gong yang digantung. Instrumen yang dinamai gambang juga menambah ramainya tabuhan gamelan. Bentuknya mirip dengan gender, saron dan yang lainnya, tapi mengganti lempengan metalnya dengan lempengan kayu. Kendhang yang juga merupakan alat tabuh, merupakan salah satu alat wajib dalam gamelan.

Pada masa kerajaan Mataram, gamelan mulai dibuat dengan menggunakan bahan dasar logam, yang menjadikan perubahan vital pada alat musik ini. Perkembangan gamelan pun dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan yang begitu signifikan. Variasi dalam penggunaan instrumen musik ini mulai beragam. Saat ini, sering kali, gamelan dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar atau keyboard, atau bahkan dipadukan dengan musik progresif.

Gamelan yang dianggap lebih rumit daripada jenis alat musik lainnya ini pada awalnya diperkenalkan oleh kerajaan Majapahit. Pada abad ke-16, gamelan pun mulai digunakan juga sebagai sarana untuk menyebarkan agama Hindu. Selain itu, gamelan biasanya digunakan untuk menemai tarian, pertunjukan wayang, hingga ke ritual-ritual tertentu. Biasanya gamelan sangat kuat terkait dengan kegiatan kesultanan dan ritual Jawa.

Kemajuan dan modernisasi memang sedikit banyak telah menurunkan dan menggerus eksistensi gamelan di masyarakat Jogja sendiri. Peminat masyarakat untuk belajar menabuh ataupun berminat untuk menikmati tampak turun.

"Saya belajar menjadi wiyaga (penabuh gamelan) karena saya mau melestarikan salah satu budaya tradisional," demikian ungkap Banu Wijawa (23) yang tergabung dalam kelompok gamelan muda-mudi Alfonsus. Belajar menjadi wiyaga pada saat ini sering dirasa sebagai hal yang 'ketinggalan jaman' oleh para generasi muda.

Padahal bila ditilik dari harganya, gamelan ini sangat bernilai tinggi. Harga lengkap satu set gamelan minimalnya samapai dengan Rp 150 juta, sedangkan untuk gamelan yang memiliki kualitas baik dapat mencapai Rp 600 juta, atau bahkan Rp 1 milliar.

Menurut Banu dalam melestarikan budaya, kita seharusnya selalu berpikir positif. "Budaya itu kan milik kita sendiri, jadi siapa lagi yang harus melestarikannya kalau bukan kita." (jan)

 

 
Berita Terkait :

S07 Menuju Bantul, Bawa Bantuan dan Hiburan
Djawa Blues, Tempat Berbagi Para Penikmat Musik Blues
Astonvilla Hentak Jogja di Festival Seni Budaya Perancis
Oh, Nina! Luncurkan Mini Album, "Enjoy the Euphoria of Anti-Cliche World"
Maliq & D'Essentials dan Syaharani Pukau Publik Jogja
Meet In Djogja, Menyatukan Band Lokal
Somethink About, Lampiasan Kemarahan Ala Captain Jack
"Morning Horny" Siapkan Video Klip
Dead Poets Community
 
Copyright © 2005 trulyjogja.com .
No part of this content or the data or the image or information included therein may be reproduced, republished or redistributed without the prior written permission of TrulyJogja.com

Mengenal Jogja & Yogyakarta Lebih dekat