Tarian Tematik, Sarana Pengembangan Seni dan Kreatifitas Anak 15/11/2006 13:06
Suasana meriah memenuhi studio musik di PPPG Kesenian di Jl. Kaliurang pagi itu. Puluhan siswa SD dari Bantul terlihat sangat semangat berlatih menarikan beberapa tarian. Dengan berseragam kaos merah bertuliskan Festival Seni Pertunjukan Internasional 2006 mereka mengikuti gerakan yang diajarkan Sidik Nugroho dan Lilin Candrawati.
Ya, hari itu anak-anak dari Bantul memang mendapat kesempatan khusus untuk mengikuti workshop tari. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam rangkaian acara Festival Seni Pertunjukan Internasional 2006 yang terselenggara dari tanggal 11 hingga 17 November. Sesuai dengan tekat membawa tradisi menuju pencerahan rasanya memang sangat pas bila anak-anak dari Bantul yang dibawa ke tempat yang biasanya digunakan para guru untuk berlatih ini.
Mereka memang harus bangkit dan melupakan bencana yang melanda. "Ini salah satu cara untuk memberi motivasi pada mereka agar kembali semangat belajar," imbuh Sidik yang tergabung di PPPG sejak tahun 90-an ini.
Siswa yang rata-rata kelas empat hingga enam ini mengikuti workshop selama kurang lebih tiga jam. Dalam waktu yang relatif singkat ternyata mereka mampu menguasi tiga tarian sekaligus. Ancient (mendaki gunung), menanam jagung, dan naik delman, adalah tema yang diangkat hari itu. Dari sini siswa diajarkan untuk mulai mengenal berbagai aktivitas masyarakat.
Sebelum benar-benar menari mereka diberi kesempatan untuk menciptakan sendiri gerakan dari tema yang diberikan. Mereka harus membayangkan bagaimana cara petani menanam jagung, bagaimana orang naik delman ataupun naik gunung, dan aktivitas lainnya. Dari sini lah mereka belajar mengenal kehidupan sosial. Dengan menciptakan gerakan sendiri mereka berlatih untuk mengembangkan kreatifitas diri.
Jenis tarian ini memang telah dimasukan kurikulum sekolah dalam rangka mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya. Namun nampaknya hal ini kurang didukung oleh para guru di sekolah. "Itu kendalanya. Mereka menganggap, '- ah cuma seni tari'," keluh Sidik yang telah menyelesaikan pendidikan S2-nya pada Pengkajian Seni di ISI.
Walaupun demikian anak-anak nampak tetap semangat dan menyenangi seni yang satu ini. "Rasanya seneng," kata Okti dan Tantri siswa kelas empat dari SD Wojo 1. Mengenai tema, mereka ternyata lebih menyukai tarian menanam jagung. "Seru aja," siswa lain menimpali.
Harapan tetap ada, apalagi melihat semangat anak-anak. Untuk itu pada akhir sesi workshop Sidik kembali menegaskan, "Meskipun waktunya cuma pendek paling tidak adik-adik mengenal tarian-tarian. Nah, nanti kalian akan menyayanginya, kemudian ikut melestarikan. Inilah budaya kita," kata Sidik pada anak-anak yang terlihat sangat riang dan masih ingin menari lagi, tapi sayang waktunya telah habis. Sementara Lilin yang juga senang mengajar anak-anak menambahkan tips, "Adik-adik tidak perlu takut untuk mencoba. Yang penting punya motivasi besar dan semangat, pasti bisa!" Mereka pun pulang dengan keahlian tari baru dan semangat untuk mengembangkannya. (les) |