Jalan Kaki di Kotagede

Sekilas, aku melihat Kotagede sebagai daerah yang semrawut. Jalanannya kecil, penuh dengan kendaraan bermotor yang bercampur-aduk dengan pejalan kaki, becak, dan sepeda. Belum lagi, kendaraan-kendaraan yang parkir di bahu jalan semakin menambah sempitnya jalanan yang sudah sempit.

Ah, tapi Kotagede tetap menyimpan pesonanya. Apa yang tampak, bukanlah Kotagede seutuhnya. Lorong-lorong sempitnya membangun imajinasi mengenai suatu kota tua dengan hiruk-pikuknya di era sebelum adanya kendaraan bermotor. Suatu era ketika alat transportasi yqng paling umum adalah sepasang kaki. Sebagai pusat kerajaan di masa Mataram, Kotagede memang terkenal akan sejarah panjangnya.

Kini, Kotagede semakin hiruk-pikuk, lengkap dengan kesemrawutan lalu lintasnya. Bangunan tua sisa kejayaan masa lalu bersaing dengan modernisasi. Toko perak yang magrong, butik dengan baju seharga jutaan rupiah, hingga restoran mewah dengan menu Western berhimpitan dengan toko-toko minimalis.

Lorong-lorong kecil di antara bangunan masih berhasil terpelihara. Bersih dan rapi, tidak kumuh seperti lorong-lorong kecil di perkotaan. Memasuki lorong-lorong ini seakan memasuki gerbang ke dunia lain. Di mulut lorong, tak jarang kita temui halaman rumah yang cukup luas, lapangan bermain yang asri, hingga perumahan yang tertata rapi. Suasananya lebih tenang dan tentram dibandingkan dengan keriuhan lalu lintas yang menjadi ‘wajah’ Kotagede.

Kotagede memang penuh misteri. Ia meyembunyikan keasriannya dan justru menampakkan keriuhannya. Jadi, kalau ingin menikmati Kotagede, janganlah terburu-buru. Turunlah dari kendaraan dan berjalan-jalanlah. Siapa tahu kamu akan menemukan satu dari tiga produsen kembang waru yang masih tersisa, tersembunyi di balik bangunan-bangunan itu…

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *