Kamu Makan Apa?

Mungkin kalimat itu adalah salah satu kalimat terpopuler di dunia kuliner. Tak heran kalimat tersebut terus saja dikutip, baik untuk keperluan blog hingga ke ranah tulisan akademis. Sebenarnya, kalimat itu sendiri terkait erat dengan kesehatan. Suatu ungkapan yang ingin menunjukkan bahwa kesehatan kita sangat tergantung pada apa yang kita makan. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, kalimat tersebut lantas kerap pula dikutip untuk hal-hal yang berkaitan dengan masalah identitas.

Sebuah tulisan yang saya lupa judulnya membuka mata saya bahwa yang terjadi saat ini adalah juga sebaliknya. Banyaknya pilihan makanan dan diferensiasi atas jenisnya membuat identitas seseorang selalu berbeda. Penekanan identitas tidak lagi terletak pada apa yang dimakan. Penekanan identitas (juga) terletak pada apa yang tidak dimakan – karena di situlah letak perbedaan dan perbedaan itulah yang kita konsumsi.

Setidaknya begitulah menurut Baudrillard.

Ketika beberapa orang sama-sama memakan lotek, bukan berarti mereka memiliki identitas yang sama. Tapi begitu salah seorang memilih untuk tidak memakan lotek, identitas dirinya baru saja keluar. Penolakan pada suatu makanan sering kali dianggap tidak sopan karena menyiratkan penolakan untuk disamakan. Suatu identitas yang lebih spesifik muncul dari ‘apa yang tidak dimakan’.

Orang Jogja seakan-akan menjadi ‘bukan orang Jogja biasa’ jika tidak menyukai rasa manis karena rasa manis memiliki ikatan yang kuat dengan Jogja. Seorang kawan pernah bercerita tentang tamunya yang tiba-tiba membuang makanan yang ia jual di depannya hanya karena menggunakan selasih dan bukannya bahan yang lebih sophisticated. Mungkin ini cara ekstrim untuk menyatakan bahwa mereka berbeda ‘kelas’.

Melalui perbedaan pilihan makanan itulah seseorang dapat berekspresi dan menyatakan siapa dirinya. Pada akhirnya, “you are what you don’t eat” juga penting untuk melihat identitas dari perspektif yang sedikit bergeser.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *