Kapan Memaknai Jogja Lagi?

Ada momen-momen saat kepenatan kerja mulai membabi buta saya kemudian mengingat satu hal, Jogja.  Jarak Jakarta dengan Jogjakarta memang tak bisa dibilang dekat, lebih dari 600 km. Tapi tentu jarak geografis tak selaras dengan jarak di pikiran. Itu yang terjadi antara pikiran saya dengan Jogja, ia selalu memanggil melintasi jarak geografis.

Saat momen-momen kerinduan itu menyerang tak banyak yang bisa saya lakukan. Biasanya saya akan mengobrol dengan teman-teman semasa kuliah di Jogja dulu melalui telepon atau aplikasi pengirim pesan. Selain itu tak banyak yang bisa dilakukan, entah saya yang kurang referensi atau memang sedikit karya yang (ini mungkin istilah berlebihan) “nJogja”. Untungnya beberapa waktu ke belakang saya menemukan satu lagu apik tentang Jogja.

Nama band itu asing di telinga saya, mungkin karena sudah beberapa tahun saya meninggalkan Jogja, Everyday Band namanya. Mereka menghasilkan sebuah lagu apik bertitel, “Kapan ke Jogja Lagi”. Lagu ini, setidaknya untuk beberapa waktu ke belakang, mengobati rasa rindu pada Jogja di tengah kepenatan ibukota.

Sebenarnya tak ada yang terlalu spesial dengan lagu ini. Narasinya sangat sederhana, sesuai judulnya, ia seperti sebuah pengingat bahwa Jogja selalu terbuka, tinggal kemauan individu-individu untuk mengunjunginya kembali. Tentu ada gimmick-gimmick kecil dalam lirik yang menggambarkan suasana Jogja. Untungnya gimmick itu ditampilkan dengan proporsi yang cukup, tak berlebihan seperti harga gudeg di seputaran Malioboro.

Lagu ini menjadi spesial bagi saya karena perspektifnya. Jogja tak dipandang sebagai sesuatu yang adi luhung, ia hadir sebagai sebuah keseharian. Lihat misalnya bagaimana dalam video klipnya masing-masing orang bebas memaknai Jogja. Atau bagaimana relasi Jogja dengan individu terasa begitu manis ketika beberapa pelajar Indonesia di luar negeri ikut bersuara dalam video klip lagu ini. Perspektif ini hanya dan hanya bisa dibuat oleh orang yang memang mengenal Jogja.

Selama ini kecelakaan terbesar tentang “nJogja” boleh jadi adalah penyempitan kota ini sebatas gimmick tradisional. Tentu Jogja terus bertransformasi, bahkan boleh jadi keterbukaan dan transformasilah nyawa utama kota ini. Mahasiswa dan pendatang yang terus berdatangan tak bisa dipungkiri memberi warna tersendiri. Pun, hal itu juga membuat perspektif lain, bahwa Jogja tak hadir sebatas cakupan geografis. Ia hadir dalam relasi-relasi personal antara individu yang pernah tinggal di dalamnya.

Lagu ini menyadari betul hal itu, ia tak mengunci Jogja dalam pujian-pujian klise khas cara FTV memaknai Jogja. Ia paham bagaimana relasi individu yang pernah berhubungan dengan Jogja. Mendengar lagu ini seperti mendapat sapaan dari Pakde saya ketika saya pamit meninggalkan Jogja beberapa tahun lalu, “Le, ngati-ngati, nyambut gawe le bener, nek libur ojo lali dolan Jogja meneh”. Lagu ini tak memaksa menjadi Jogja tapi mengingatkan bahwa akar kita ada di sana.

Tentu apapun lagu tentang Jogja, termasuk lagu ini, akan selalu berhadapan langsung dengan “Jogjakarta” gubahan KLA Project. Lagu garapan Katon dkk tersebut memang menjadi semacam tugu Jogja. Tapi ada satu momen yang membuat saya berpikir ulang tentang cara kita memaknai lagu yang membuahkan penghargaan dari Sultan pada Katon, Lilo dan Adi tersebut.

Beberapa teman saya mengutuk keras remake lagu “Jogjakarta” oleh band populer Ungu. Saya pun salah satu yang mengutuk. Karya remake itu memang buruk, terlalu buruk bahkan, ingin rasanya menyumpel mulut vokalis Ungu dengan sate usus angkringan bunderan. Tapi, saya kemudian berpikir ulang. Apakah kemarahan ini karena karya remake yang buruk atau jangan-jangan karena kita merasa terganggu jika rasa nyaman pada lagu “Jogjakarta” Kla mulai terganggu.

Saya takut jawabnya adalah yang kedua. Sekarang coba bayangkan ilustrasi ini. Seorang pendatang mengunjungi Jogja pada saat libur lebaran. Mereka mencoba angkringan atau gudeg. Kemudian sekumpulan pengamen datang. Maka boleh jadi hukum permintaan dan penawaran berlaku, meluncurlah lagu “Jogjakarta”. Lagu ini menjadi begitu diterima, tanpa ditanya kembali. Ia menjadi begitu absolut, tak lagi ditanyakan ulang.

Tentu tak ada yang salah dengan menjadi sesuatu yang absolut. Tapi, Jogja yang saya kenal bukan sesuatu yang kaku dan absolut. Ia begitu luwes dan selo. Keterbukaan dan dialektika antar budaya dan individu-individu di dalamnya yang membuat kota ini menyenangkan bagi saya. Ironis rasanya jika kemudian yang bisa menggambarkan lagu ini hanya dan hanya “Jogjakarta” milik KLA saja.

Tak dapat dipungkiri, lagu gubahan Katon , Lilo dan Adi itu memang apik. Tapi Jogja terus bertransformasi. Kita harus melihat lagu itu juga dalam kacamata kritis. Jogja, sayangnya juga tak lagi se romantis lagu itu, banyak perubahan selama puluhan tahun.

Mendengarkan lagu itu memang meneduhkan, tapi sampai kapan kita harus mengingat Jogja layaknya mengarang cerita pergi ke rumah nenek saat SD dulu. Tak adakah ruang untuk mengingat Jogja misalnya dengan saat guyub di kampus sambil saling memaki dengan pisuhan khas mahasiswa. Karena terus terang saya tak mengalami Jogja yang diceritakan Katon, saya mengalami Jogja yang lain dan saya tetap bersyukur dengannya.

Lagu “Kapan ke Jogja Lagi” menurut saya dengan ramah seperti sedang kulonuwun pada “Jogjakarta” milik KLA. Ia tak sedang meromantisir Jogja, tapi sedang menginterpretasi Jogja sesuai jamannya. Interpretasi Everyday Band ini digarap dengan semangat zaman yang tentunya berbeda dengan masa saat KLA mengkarantina dirinya di kawasan Kaliurang untuk menggubah “Jogjakarta”.

Keberanian menginterpretasi Jogja kembali ini yang menurut saya patut diapresiasi dari Everyday Band. Band ini terus bertanya dan tidak menerima begitu saja keadaan. Tentu ada kelemahan-kelemahan di dalamnya, sebagai sebuah karya tentu “Jogjakarta” milik KLA tetap lebih everlasting, tapi bukan itu poin utamanya. Yang utama adalah ikhtiar untuk terus memaknai kota yang sama-sama kita cintai.

Saya ingat terakhir kali ke Jogja pada saat puasa hari pertama tahun ini. Saya menyempatkan diri untuk sahur bersama dengan Pakde di kediamannya, tempat saya menumpang saat kuliah. Ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan saat saya mahasiswa. Saat santap sahur Pakde bertanya tentang kegiatan saya saat ini. Ia selalu mendengarkan. Tak pernah satu kali pun ia bicara khas orangtua semacam, “Zaman pakde dulu”.

Lagu “Kapan ke Jogja Lagi?” seperti sebuah pertanyaan kecil di saat sahur dari Pakde. Ia membebaskan kita untuk memaknai kembali diri kita dan Jogja. Tanpa terjebak memaksa memaknai Jogja dari kacamata romantisme lampau. Setiap generasi punya ceritanya. Boleh jadi “Kapan ke Jogja Lagi?” adalah cerita generasi ini, generasi yang memandang Jogja bukan sebagai tujuan tapi sebuah akar.

 

Ardi Wilda

About Ardi Wilda

Menghabiskan lima tahun masa mudanya di Jogja sebagai mahasiswa. Kini berlabuh menjadi penulis di ibukota. Di sela-sela pekerjaannya selalu menyempatkan diri berpiknik di taman kota. Silakan menyapa melalui @ardiwilda dan ardiwilda.com
One Comment
  1. Salam kenal Ardi,

    menarik sekali tulisanmu, sedikit mengobati rindu pulang ke Jogja
    ditunggu catatan-catatan selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *