Makanan Tradisional di Jogja

Keinginan seperti yang dimiliki kawan saya untuk makan makanan tradisional ini kerap terjadi. Seakan ada pemikiran yang terkonstruksi bahwa kalau di Jogja ya idealnya makan makanan tradisional. Kenapa? Jawabannya bisa beragam, mulai dari mencari pegalaman yang berbeda hingga keinginan untuk ‘merasakan’ pengalaman yang seutuhnya dari Jogja. Yang jelas, rasa bukanlah alasan utama makanan tradisional ini dicari.

Sebenarnya, makanan tradisional bukanlah milik kota Jogja. Di Jakarta pun ada gudeg atau pecel, namun mungkin saja makanan tersebut tidak masuk dalam menu harian kawan saya tadi. Di sana, sangat mungkin makanan tradisional kehilangan ‘ketradisionalan’-nya, dan bergeser menjadi makanan yang terlalu biasa.

Keinginan makanan tradisional – terutama yang memiliki label ‘khas Jogja’ – bisa juga menjadi penanda kewilayahan. Bahwasanya dia sudah di Jogja dan ingin mencicipi Jogja yang ia kenal. Jogja yang terkandung dalam makanan tradisional tadi. Alhasil, pengalaman Jogja pun menjadi lengkap dengan hadirnya makanan tradisional yang dikonsumsi di lokasi ‘asli’-nya.

Kekuatan makanan tradisional ini juga terletak pada kuatnya akar historis dan cerita yang mengelilinginya. Ini terbukti bila seseorang berkeinginan menjual sego pecel yang sama persis dengan SGPC Bu Wiryo namun berlokasi di Magelang, besar kemungkinannya tidak selaris yang di Jogja. Alasannya, akar historis dan kisah-kisah yang menyelubunginya akan hilang. Dengan hilangnya hal tersebut, hilang pula pesona sego pecel tadi.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.
2 Comments
    • Kalau menurut saya, justru sebaliknya, Mas Eko…awalnya orang yang makan ke SGPC Bu Wiryo kebanyakan ‘alumni’ Jogja (atau lebih sempitnya) jadi makan ke sana karena kenangan, belum tentu karena makanannya…terus cerita berkembang, dan sekarang jadi ‘khas’… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *