Melihat Kembali Acara Musik Hari Ini

Acara musik atau sering disebut gigs memang sudah tidak lagi akrab untuk saya kunjungi. Hal yang berbeda dengan lima-enam tahun yang lalu, dimana saya masih duduk di bangku kuliah. Dari banyaknya gigs yang saya datangi saat itu, saya cenderung lebih menikmati acara yang memiliki keintiman; baik dari segi jumlah penonton, ruang, maupun pengisinya.

Salah satu gigs yang masih berkesan untuk saya saat itu adalah acara yang diselenggarakan di Teater Garasi pada awal tahun 2010. Gigs yang menghadirkan Ken Stringfellow itu hanya dihadiri penonton tak lebih dari 20 orang. Semua penonton duduk di ruang latihan yang tak besar sambil menikmati musik yang mengalun bersamaan dengan suara hujan yang mewarnai kota Jogja saat itu.  Keintiman serupa saya rasakan saat melihat pertunjukan solo Frau di Via-Via pada awal karirnya di tahun 2009.

Selain ada beberapa gigs yang intim, pada kisaran tahun tersebut, musik Jogja juga diramaikan dengan kehadiran festival-festival yang cukup bombastis. Tidak saja menghadirkan nama-nama besar, umumnya festival ini diselenggarakan di tempat yang besar dan dalam durasi yang panjang. Beberapa diantaranya bahkan terselenggara selam tiga hari). Untuk saya, festival-festival seperti ini memang besar dan tidak buruk namun kurang membuat saya terkesan, itu saja.

Setelah absen dari dunia ini selama tiga tahun, menginjak tahun 2013 perasaan kangen terhadap gigs ini entah mengapa muncul kembali. Beberapa teman pun tampak kembali bergerak mencari formula baru dalam menyajikan acara musik. Untuk saya, hal ini cukup menarik karena saya pribadi cukup penasaran bagaimana menghadirkan acara musik dengan cara yang berbeda. Saat ini, saya melihat setidaknya ada dua acara yang menarik karena menghadirkan kecenderungan yang “beda”: Folk Afternoon dan Lelagu.

Sandi Kalifadani, penggagas Folk Afternoon, mencoba menghadirkan kehangatan dengan merobohkan tembok antara penonton dan penampil melalui acara ini. Semua penonton memiliki hak untuk tampil di panggung super sederhana yang hanya berupa kursi kosong dan memainkan lagu pilihannya menggunakan alat-alat seadanya. Untuk saya, yang membuat acara ini menarik justru karena kesederhanaannya serta keintimannya. Semua penonton seolah mencair dan berkenalan. Tak heran jika dalam setiap pelaksanaannya, penonton-penonton yang awalnya tak kenal pun hadir lagi dan menjadi teman.

Acara kedua yang juga tak kalah menarik adalah Lelagu yang diinisiasi teman-teman dari Kanaltigapuluh. Gigs ini bisa dibilang lebih serius dalam arti memiliki penjadwalan, susunan acara, dan lain-lain. Namun yang paling menarik dari gigs akustik ini adalah kolaborasinya dengan perupa, serta pengembangan bentuk apresiasi terhadap musik dan seni rupa dengan cara yang baru. Dalam setiap penyelenggaraannya, Lelagu, yang kini sudah sampai episode ke-10 ini tak hanya mengundang band-band saja namun juga perupa yang diminta untuk menggambar secara langsung di atas panggung dan merespon musik menggunakan mesin OHP. Meski tak yang baru di dunia ini namun pendekatan kolaborasi yang awalnya tak populer ini tentunya memberi tawaran yang berbeda.

Saya juga sempat mendengar bahwa hampir di semua penyelenggaraan Lelagu selalu ada kios sablon dimana para pengunjung dapat menyablon kaos oblongnya hanya dengan membayar uang sekitar Rp. 10.000,-. Selain itu, dalam tiap episode-nya, Lelagu selalu membuat poster yang dijual dengan jumlah terbatas. Kedua hal tersebut: sablonase dan poster, dihadirkan sebagai bentuk lain dari upaya pembiayaan keberlangsungan acara maupun apresiasi terhadap para musisi dan perupa yang mengisi. Acara ini memang gratis dan untuk itulah mereka mencoba menghadirkan alternatif lain melalui kedua hal tadi.

Kedua gigs ini juga merupakan sebuah bentuk kolaborasi musik dengan ruang seni alternatif. Folk Afternoon, misalnya, menggandeng Lir dan Lelagu menggandeng Kedai Kebun Forum dalam penyelenggaraannya. Lir pun menjadikan acara ini sebagai alternatif bagi acara musik tahunan mereka yang diselenggarakan di hutan, In the Woods. In the Woods  yang sempat berlangsung dua kali pada tahun 2011 dan 2012 merupakan acara musik dengan lokasi sedikit tersembunyi dan membawa musik ke tengah alam. Kini, Folk Afternoon pun kerap mengadakan gigs dengan lokasi yang berpindah-pindah: mulai dari ruang galeri Lir, rooftop, taman, dan yang paling baru dilakukan di rumah tetangga. Publikasi umumnya dibuat sedikit mepet dengan tujuan supaya pengunjungnya tidak terlalu banyak dan tetap intim. Sedikit berbeda dengan Folk Afternoon, Lelagu lebih memiliki jadwal yang pasti, yaitu setiap bulan dengan tempat di ruang pertunjukan Kedai Kebun Forum.

Tanpa meniadakan gigs lain yang juga mewarnai kehidupan musik kota Jogja, saya merasa Folk Afternoon dan Lelagu berhasil membawa atmosfer berbeda. Untuk saya, Folk Afternoon yang meletakkan gigs sesederhana bermain gitar di pos ronda, serta Lelagu yang membawa gigs ke tingkat yang lebih dari sekedar acara musik adalah dua kecenderungan yang menarik untuk diperhatikan dalam kurun setahun terakhir. Bisa jadi kecenderungan-kecenderungan baru, yang sesuai dengan karakteristik kota akan bermunculan. Tidak lagi harus sesuatu yang besar namun justru berangkat dari sesuatu yang kecil tapi pas.

Dito Yuwono

About Dito Yuwono

Pernah menulis untuk sebuah zine musik lokal pada tahun 2008-2010. Saat ini berprofesi sebagai penulis kuliner-seniman-pengelola ruang seni-manajer residensi-fotografer-dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *