Menjadi Jogja

Sri Godhong, Tri Kotak, Bambang Selangkah, Amad Sedel, Alex Inggris, Samuel Morse, Endang Gedang, Yusuf Lempit, dan masih banyak nama lain. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang Yogya atau telah “menjadi Yogya”. Berkenalan dengannya seperti merasakan denyut nadi Yogya. Kita tidak hanya akan mengenali Yogya yang murah senyum, persaudaraan tanpa sebab, namun juga muslihat dan siasat. Kanal PEOPLE akan membagi pengalaman mengenali Yogya melalui orang-orangnya, baik individu atau komunitas.

Yogya adalah kota kecil jika dibandingkan Jakarta, Semarang, Makasar, atau Surabaya. Meskipun kecil, kota ini menduduki posisi penting bagi Indonesia, baik dari sisi sejarah, pergolakan pemikiran serta politik. Tentu saja, orang-orang di dalamnya yang menjadikannya penting. Seniman kelas dunia hingga kampung akan mudah kita jumpai, pemikir kelas wahid tak risih ngobrol di Angkringan di pinggir jalan, pencari ilmu yang datang dan pergi, atau individu-individu unik yang dikenali hampir sebagain warga kota. Inilah Yogya! Mengenali dan membicarakan orang-orang adalah kenikmatan dan keahlian yang harus dimiliki. Mengabaikannya? Kita akan dikategorikan “bukan Yogya”: sekedar pelancong barangkali!

Atau bahkan, sebagai pelancongpun, kita musti mengenali dan membicarakan orang Yogya? Mengembangkan keahlian sederhana menelisik pedagang dan penarik becak Malioboro yang memberi harga tak masuk akal? Mengenali nada jawaban “bisa” yang sesungguhnya berarti “tidak bisa”? Memahami kesombongan kecil penjual Bakmi Jawa yang menutup warungnya meski pembeli berjibun sebagai laku hidup?

Jangan tergesa. Alon-alon, pelan-pelan saja mengenali orang-orang Yogya. Menjebakkan diri dalam stereotype orang Yogya yang murah senyum dan medhok hanya akan membuat patah hati. Sebab Yogyakarta tidak tunggal.
Sejak anak-anak muda berdatangan, menuntut ilmu di sekolah dan universitas, Yogya semakin hidup dalam banyak kebudayaan. Bukan saja kebudayaan Kampus-Kraton-Kampung, namun juga kebudayaan dari berbagai daearah yang ada di Indonesia dan negara lain.

Jangan kaget dan kapok juga jika bertemu dengan pribadi-pribadi yang tak diharapkan di Yogya. “Sengit ndulit”, kalau kita berniat tak suka, malah akan kena batunya. Yogya itu ngangenin! Salah-salah, kita malah akan dipanggil suara drumband di sepertiga malam! Orang bilang, suara drumband itu hanya didengar oleh orang-orang yang ditakdirkan tinggal dan hidup di Yogya. Rasain!

Kanal PEOPLE sejatinya adalah nangga dan rerasan, mengunjungi tetangga dan memahami “yang lain”. Kemudian menceritakan kembali pengalaman pertemuan itu: pengalaman bertemu tetangga rumah, kampung, desa, kampus, dan lain-lain.

Kusen Ali

About Kusen Ali

Bekerja sebagai praktisi antropologi dan manajemen seni. Pernah suntuk menggeluti dunia urban, menulis pernik kampung-kampung  pinggir sungai di Yogyakarta. E: kusenhadi@yahoo.com/ FB: kusenali@gmail.com/ T: @kusen_ali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *