Merapi dan Romantisme Kaliurang

Pagi hari sepulang dari mencari sarapan bubur lezat di Jl. Magelang, Gunung Merapi menghiasi pemandangan selama perjalanan pulang kami. Indah sekali.

Sudah sekian lama Gunung Merapi tidak muncul dengan megahnya seperti kemarin. Langit yang cerah membuat gunung itu tampak jelas dan seakan mengundang. Di tengah musim hujan, sering kali Gunung Merapi ditutupi oleh mendung tebal sehingga puncaknya – atau bahkan keseluruhan gunung – kerap tak tampak. Nah, karena pemandangan seperti ini bukanlah pemandangan sehari-hari, perjalanan sederhanaku dari warung bubur ke rumah beberapa waktu yang lalu pun menjadi istimewa.

Efeknya, kemunculan Gunung Merapi secara penuh seperti kemarin membuatku tiba-tiba ingin pergi ke Kaliurang. Seringnya sih begitu. Impulsif.

Karena itulah, bisa dibilang, kemunculan Gunung Merapi di ujung jalan dapat juga menjadi bentuk promosi gratis bagi wilayah Kaliurang dengan pasar orang-orang seperti aku. Bentuknya yang indah seakan-akan menjanjikan ketenangan dan kenyamanan khas pegunungan apabila kita berkujung ke sana. Lalu imajinasiku akan berkelana ke teh poci susu yang hangat, jadah yang gurih, roti bakar yang manis, aroma pohon pinus, hingga kabut sejuk yang tiba-tiba menyergap.

Sejak masa penjajahan dulu, Kaliurang memang didesain sebagai tempat beristirahat bagi para penduduk asing. Kaliurang dipilih oleh mereka dengan pertimbangan yang cukup matang, seperti adanya tebing-tebing dan kali-kali di sekitarnya yang akan (selalu) melindungi Kaliurang dari lelehan lahar apabila Gunung Merapi bergejolak.

Selepas kemerdekaan, Kaliurang masih menjadi tempat peristirahatan dan berkembang pula menjadi tempat wisata sederhana bagi warga lokal. Tak heran daerah Kaliurang memiliki banyak villa yang dapat disewa untuk bermalam ataupun mengadakan acara-acara komunitas – walaupun, menurut kepercayaan setempat, kalau salah memilih bisa-bisa kita mendapat villa berhantu.

Letaknya yang hanya kurang dari 1 jam perjalanan dari Jogja (atau setengah jam dari rumahku), sebenarnya membuat Kaliurang cocok untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan. Sering kali, di sana waktu serasa berhenti.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *