Hang-out Minum Susu?

Berdirinya Kalimilk memang mau tak mau mengubah persepsi masyarakat di Jogja mengenai susu. Susu yang tadinya ‘hanya’ dipandang sebagai minuman kesehatan, bergeser menjadi minuman yang nge-trend. Bahkan para penikmat susu ini pun kemudian memiliki panggilan “Neneners”.

Seingatku, sejak saat itu sepertinya semua orang ‘ingin’ meminum susu. Tempat-tempat nongkrong yang menjual susu pun mulai menjamur. Seperti kata temanku tadi, di mana-mana orang menjual susu.

Maksudku, ada masanya di mana susu dianggap minuman yang ‘lembek’, sesuatu yang kanak-kanak – mungkin karena kaitannya dengan kehidupan masa kecil yang sepertinya tak lepas dari kegiatan minum susu.

Ada masanya ketika aku memesan susu di suatu tempat hanya karena alasan untuk mengobati alergiku yang muncul akibat makan tuna yang tidak fresh. Atau memesan susu di suatu kafe karena terlalu banyak asap rokok di sekitarku.

“Kalau kamu nggak tahan sama asap rokok, pesen susu. Bisa ngurangin pusingnya,” ujar cinta-bertepuk-sebelah-tangan-ku pada masa itu.

Intinya, saat itu susu memiliki fungsi ‘kesehatan’. Kini, berkat tempat-tempat nongkrong yang menyediakan menu susu sebagai menu dominan, fungsi itu melebar. Susu pun memiliki fungsi ‘sosial’ di mana sangat wajar anak-anak muda nongkrong dan meminum susu tanpa memikirkan alasan kesehatan.

Yang mereka pikirkan, susu apa yang ingin mereka minum? Susu durian, susu anggur, atau susu stroberi?

Akibatnya, kalau mau cari susu murni, penjual susu dengan tenda di pinggir jalan bukan lagi pilihan satu-satunya. Sepertinya, era STMJ sudah berlalu. Susu juga bukan lagi partner eksklusif roti bakar, karena sekarang ini risol isi mayo atau spaghetti juga bisa menjadi partner susu.

Tapi, apakah meningkatnya status dan penjualan susu yang nge-trend ini lantas membuat susu makin sering diminum di rumah – terutama karena¬†alasan ‘memang lagi ingin’? Hihihi. Belum tentu juga.

Tak seperti kopi atau teh yang sudah mengakar di keseharian, sepertinya susu masih perlu mencari jalannya untuk dapat diterima sebagai minuman sehari-hari di masyarakat Yogyakarta.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *