Multikultur dalam Sebuah Polybag

Jogja bukan saja dikenal sebagai Kota Pelajar, namun juga mendapat predikat sebagai The City of Tolerant – berkat banyaknya mahasiswa dari berbagai daerah yang ingin menempuh pendidikan dan hidup bersama di sini.

Meski saya juga kerap mendengar pendapat seperti ini ketika saya kuliah di Jogja, pada kenyataannya tidak seharmonis itu juga. Contohnya saja, dalam satu tahun belakangan ini, Jogja justu mendapat predikat nomor dua terkait intoleransi agama maupun suku – tepat setelah Jawa Barat.

Multikultur tidak selalu identik langsung dengan keadaan yang rukun dan ‘adem ayem’ saja. Di Jogja, mahasiswa dari berbagai latar belakang itu berusaha berbaur. Mereka berusaha saling menghargai budayanya masing-masing dan menjadikannya sebagai proses belajar. Dari dasar ini, gerakan menanam, yang awalnya mungkin hanya dipandang sebagai program atau proyek bagi pemerhati lingkungan saja, difungsikan pula sebagai gerakan sosial.

Keadaan kost-kostan mahasiswa di Yogyakarta saat ini mulai berkelompok-kelompok menurut teman sedaerah ataupun seagamanya. Ini dapat dilihat dengan banyaknya asrama mahasiswa dan kost-kostan yang (secara implisit) menolak atau hanya menerima mahasiswa dari suku/agama tertentu.

Tak berhenti di situ, seringkali saya melihat bahwa sepulang dari berkegiatan di luar, anak kost langsung masuk kamar masing-masing tanpa adanya ngobrol bareng dahulu sebagai ruang dialog – ini terjadi di asrama sekultur maupun multikultur. Keadaan ini akan menjadi masalah bagi hubungan ketetanggaan dan hal inilah yang perlu dibenahi sebagai community development.

Polybag hanyalah sebuah plastik untuk tempat menanam tumbuhan organik seperti cabe, sawi, tomat dan banyak tanaman lain yang tidak membutuhkan waktu lama untuk tumbuh. Penggunaannya amat sesuai dengan kondisi terbatasnya lahan di kost-kostan.

Namun dari polybag, bisa muncul dampak positif dalam hubungan sosial. Gerakan untuk menanam dalam polybag ini dapat memunculkan interaksi sosial dan mempererat komunikasi antar anak kost yang multikultur maupun yang tidak. Tak hanya itu, gerakan ini juga bisa membuka ruang komunikasi antara anak kost, pemilik kost, dan warga sekitar.

Dari menanam tanamannya hingga memetik hasilnya, bisa menciptakan ruang interaksi yang lebih dari sekedar sapaan basa-basi. Manfaat lainnya adalah menjaga lingkungan, dan bisa juga untuk menambah uang saku bagi mahasiswa loh…

Ditulis oleh: Toto Sudiarjo FB: Toto Sudiarjo / twitter: @TotoSudiarjo1

Seorang mahasiswa jurusan sosiologi kajian bisnis dan media yang sedang tertarik dengan gerakan isu hak minoritas dan lingkungan

About truly jogja

Kini, trulyjogja hadir kembali dengan konsep yang dirombak total. Untuk utamanya, trulyjogja yang awalnya memposisikan diri sebagai media massa bergeser menjadi komunitas (kalau boleh disebut seperti itu) non-profit.menyuguhkan informasi mengenai ‘Jogja yang sebenar-benarnya’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *