Nomor Urut dan Warung Makan Legendaris

Mungkin banyak yang sudah tau kalau warung Sidosemi yang terletak di daerah Kotagede itu tutup sudah agak lama. Tapi bagiku yang telah lama ‘mengurung diri di gua’, berita itu bagai halilintar di siang bolong. Super mengejutkan! Gosipnya, ada konflik internal keluarga.

Memang, menjaga keberlangsungan rumah makan legendaris membutuhkan trik tersendiri. Hubungan keluarga sering justru membuat bisnis berantakan. Terutama kalau sudah masuk ke ranah warisan dan drama-dramanya Pilihannya adalah keluarga yang hancur atau bisnis yang hancur.

Tak jarang, solusi yang terbaik adalah memecah usaha tersebut sesuai yang akan mewarisi. Sering kan kita lihat rumah-rumah makan legendaris yang di namanya terpampang pula nomor urut, seperti Soto Kadipiro 1, 2, atau 3? Nomor ini bukan cabang, tapi rumah makan yang sama dengan pemilik berbeda.

Kecuali dalam kasus Bakpia Pathuk, ya…

Anyway, Soto Kadipiro adalah salah satu rumah makan yang menurutku sukses dalam ‘membagi-bagi’ kebesaran namanya. Nomor urutan yang tertera di beberapa rumah makan Soto Kadipiro menunjukkan bahwa rumah makan tersebut bukan rumah makan yang asli, meski begitu mereka masih berhubungan darah dengan pemilik Soto Kadipiro yang asli dan mendapat ‘ijin’ untuk menggunakan resep yang sama.

Berbeda dengan yg asli, rumah makan Soto Kadipiro yang memiliki nomor urut ini memiliki kebebasan untuk mengubah konsep mereka. Sebagai contoh, Soto Kadipiro dengan nomor urut banyak yang juga menjual sot sapi, sementara Soto Kadipiro asli hanya menghidangkan soto ayam kampung.

Alhasil, nomor urut bisa menipu…

Tapi, selain warung makan-warung makan bernomor urut, banyak pula warung makan legendaris yang berhasil selamat dan bertahan beberapa generasi kok – tanpa menggunakan nomor urut. Yang penting, rasa dan kualitas bisa dijaga, dan ada manajemen konflik dalam keluarga.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *