Pola Makan

Sejak mengalami sakit (semacam) maag beberapa waktu lalu, aku menjadi lebih peduli dengan jam makanku. Sebisa mungkin tidak terlambat. Dan karena sakit (semacam) maag itu bagai menular ke seluruh keluargaku, aku pun mewanti-wanti mereka untuk tidak telat makan – termasuk ke Simbok yang momong Panji.

“Tapi saya biasanya pagi cuma minum teh…” kata Simbok yang Momong Panji.

Nah… saat itu, aku baru ingat kalau jadwal waktu makanku yang runtut yang kuikuti sangat mungkin tidak diikuti oleh orang lain.

Jadwal makan yang tiga kali sehari sudah mendarahdaging dalam kehidupanku. Seakan-akan tidak makan tiga kali sehari adalah suatu tindakan kriminal. Itulah resikonya hidup di dunia yang homogen. Saat itu semua orang di lingkunganku melakukan hal yang sama. Ini membuat aturan makan tiga kali sehari menjadi lebih wajib untuk diikuti.

Pada kenyataannya, makan tiga kali sehari tidak ada kaitannya dengan keharusan atau kebutuhan biologis. Bahkan saat ini muncul anggapan bahwa makan beberapa kali sehari dalam porsi kecil lebih baik daripada makan tiga kali dalam porsi besar – tapi anggapan ini belum bisa dibuktikan. Makan tiga kali sehari merupakan konstruksi budaya, seringkali dikaitkan dengan status dan identitas suatu masyarakat. Karenanya, pola makan ini bisa saja berbeda antara satu gaya hidup dengan gaya hidup lainnya.

Di Jogja sendiri, tidak semua orang makan tiga kali sehari. Dari pengamatanku, jadwal makan seseorang amat dipengaruhi oleh pekerjaan dan kegiatan mereka. Para pekerja kantoran umumnya menikmati makan tiga kali sehari. Sementara banyak anak kos yang memilih untuk tidak sarapan dan makan hanya dua kali sehari, yaitu makan siang dan makan malam. Buruh bangunan memiliki pola makan yang berbeda lagi, mereka tak jarang makan empat kali dalam sehari: sarapan, makan siang (rolasan), makan sore, dan makan malam ketika matahari sudah tenggelam.

Belum lagi ibu-ibu menyusui (seperti yang sedang aku jalani) yang sering kali makan sampai lima kali sehari – dan mungkin lebih.

Jadi, janganlah merasa bersalah kalau merasa makan tiga kali sehari itu kurang. Boleh nambah kok… 😉

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *