Remah-remah Masa Lalu

Pernah dengar tentang gustatory nostalgia? Ini sepertinya ungkapan paling tepat untuk menjelaskan perasaan kita pada makanan-makanan penuh kenangan yang kerap kita temui. Bagaimana suatu makanan bisa memunculkan kenangan yang luar biasa telah dijelaskan panjang-lebar oleh John D. Holtzman dalam tulisan Food and Memory.

Melihat berkembangnya industri kuliner (terutama yang bersanding dengan industri pariwisata) di Jogja, gustatory nostalgia memiliki peran yang besar. Munculnya warung makan legendaris sangat dipegaruhi oleh gustatory nostalgia dari orang-orang yang pernah berkunjung atau tinggal di Jogja.

Seperti kata kawan saya tadi, makanan yang awalnya terasa biasa saja menjadi fantastis ketika muncul kenangan-kenangan yang mengaitkan dirinya dengan romantisme masa lalu. Meski begitu, warung-warung yang tadinya biasa tapi kerap dikunjungi oleh orang-orang tadi tidak lantas menjadi legenda. Mereka memetik hasilnya justru setelah bertahun-tahun kemudian – ketika ‘alumni’ pelanggan warung tadi telah merantau ke berbagai tempat, lalu kembali sambil ‘mencicipi’ masa lalunya, dan kemudian bercerita.

Warung legenda seperti SGPC Bu Wiryo pun menurut saya menjadi legendaris dan dicari bukan karena rasanya. Gustatory nostalgia yang dimiliki para (mantan) mahasiswa ini mengaitkan antara sego pecel (salah satunya SGPC Bu Wiryo) dengan kenangan mereka saat kuliah. Rasa menjadi alasan nomor sekian.

Menurut saya, gustatory nostalgia juga memiliki peran besar dalam konstruksi gudeg sebagai makanan ikonik Jogja. Sama seperti kasus SGPC tadi, meski akhirnya orang yang mencari SGPC Bu Wiryo atau gudeg tidak memiliki keterkaitan dengan makanan tersebut, pada awalnya mereka mencari makanan tersebut karena kenangan mereka.

Gustatory nostalgia yang dimiliki seseorang ini bisa jadi sangat personal. Seperti perasaan suami saya pada Warung Sendowo yang terletak di daerah Sekip yang mengingatkannya pada masa-masa kuliah. Atau perasaan saya pada warung burjo di dekat rumah yang lekat dengan kenangan Mister Samwan.

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *