Sahur di Rantau

Ketika ramadhan tiba, hal yang sering dikhawatirkan terlewat adalah makan sahur. Pendeknya waktu santap sahur, terbatasnya menu makanan, juga mood makan yang masih berbagi waktu dengan rasa kantuk. Orang cenderung memilih menu yang praktis dan cepat saji seperti mie instan, roti atau buah. Tapi untuk sebagian orang, makan sahur tidak ada bedanya dengan makan siang. Menu yang lebih kompleks pun dihadirkan; nasi, lauk pauk, sayur hingga buah.

Untuk sebagian besar perantau seperti saya, makan sahur menjadi problema tersendiri. Tidak adanya anggota keluarga yang membantu membangunkan dan menyiapkan makanan sehingga hanya bisa bergantung pada alarm dan teman. Bagi kost yang menyediakan dapur, masih bisa memasak kilat atau sekedar memanaskan makanan semalam. Kalau malas, tinggal pesan katering saja.

Beberapa jasa katering menawarkan layanan makan sahur, biasa diantar pada pukul 2 pagi hingga 3 pagi dengan pembayaran mingguan, menu ala rumahan dengan harga terjangkau bisa kita nikmati. Lebih praktis dari memasak sendiri dan hemat waktu juga, tinggal menunggu dan langsung makan.

Selain katering, beberapa rumah makan juga melayani jasa pesan antar, tinggal pilih menu apa yang kita mau, pembayaran bisa kontan ketika makanan diantar. Hampir serupa dengan jasa katering, sahur dengan layanan ini bisa kita tentukan sendiri mau menu apa dan dari rumah makan mana. Tak jarang pula yang memilih untuk langsung mendatangi rumah makan atau warung yang buka saat sahur.

Jogja yang kehidupan kulinernya hampir tidak pernah mati selama 24 jam, tentunya tidak masalah untuk mencari rumah makan atau warung mana yang buka dan melayani makan sahur. Warung burjo, ramesan, angkringan hingga beberapa restoran ternama tetap buka pada jam makan sahur, dari sebelum jam 2 pagi hingga pukul 4 pagi. Tentunya dengan waktu yang pendek dan banyaknya orang yang mengunjungi, antrian akan menjadi pemandangan biasa pada jam-jam makan sahur.

Mulai pukul 2 pagi, warung-warung di sekitaran kawasan padat rumah kost akan dipenuhi para mahasiswa dan perantau yang hendak membeli makan sahur. Tidak semua memilih makan ditempat, beberapa lebih memilih untuk membungkus makanan untuk dibawa pulang. Hingga menjelang imsak, antrian di warung-warung ini silih berganti. Serunya, sembari mengantri saya terbiasa mengamati berbagai tampilan pembeli; ada yang masih bermata sipit karena bangun terburu-buru atau bahkan belum tidur, memakai baju tidur, berkalung sarung tapi ada pula yang rapi wangi karena sudah sempat cuci muka gososk gigi.

Meski berkalung sarung tanpa sempat cuci muka, atau hanya berbaju tidur dengan jaket, berburu makan sahur di kota perantauan selalu menjadi agenda yang banyak dialami para mahasiswa, setidaknya untuk merasakan atmosfer ramadhan yang lebih ‘familiar’ saat jauh dari keluarga.

Nurlina Maharani

About Nurlina Maharani

penyuka warna hijau yang hobi membaca, koleksi mug dan berbagai buku. Selalu antusias jika berhubungan dengan makanan dan jalan-jalan. Penulis fiksi untuk kalangan sendiri, ditengah waktu sebagai pelajar Antropologi masa kini. Masih bercita-cita punya library-cafe suatu hari nanti. | t: @akulina | IG: @aku_lina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *