Semacam Pasar Malam di Bulan Juni

Dalam kehidupan adik saya yang masih duduk di bangku kuliah, minggu ini adalah minggu tenang. Dia diberi jeda sesaat untuk belajar dan mempersiapkan hari-hari ujian akhir yang akan segera menguras energinya. Berbeda dengan kakak ipar saya. Baginya, bulan ini adalah bulan yang biasa-biasa saja. Kehidupan berjalan tenang dan biasa saja. Adik dan kakak ipar saya, dua-duanya tinggal di Jogja dan sedang menjalani awal bulan Juni yang tenang.

Di kota yang sama di dalam semacam alternate universe lain, sebuah skena seni rupa sedang dinamis-dinamisnya. Porosnya, tentu saja, adalah art fair tahunan ArtJog yang dibuka akhir minggu ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika acara seni rupa besar seperti ArtJog dan Biennale berlangsung, puluhan ruang seni yang tersebar di setiap sudut Jogja turut serta dalam perayaan tersebut. Kali ini terdapat hampir 100 acara seni dan dipadatkan dalam waktu satu bulan. Acara-acara ini kebanyakan digagas secara mandiri oleh ruang-ruang seni yang tersebar di Jogja dalam rangka turut serta memeriahkan skena seni yang sedang ‘nduwe gawe’.

Adik dan kakak ipar saya yang kehidupannya tidak bersinggungan secara langsung dengan dunia seni rupa, mungkin mulai menyadari beberapa orang yang lalu lalang membawa lukisan besar di atas motor, hasil cetakan foto, atau kotak-kotak yang tertutup rapat. Mungkin juga mereka jadi harus mengantri sedikit lebih panjang di percetakan atau ditolak di tempat pembuatan pigura yang sudah kepenuhan pesanan. Mungkin teman-teman mereka mulai mengajak janjian untuk berangkat bersama untuk plesir dan nonton ArtJog. Sedangkan saya, yang kebetulan berada di dalam alternate universe bernama skena seni rupa ini, mengalami minggu-minggu yang tidak setenang minggu-minggu adik dan kakak saya.

Keriuhan seni ini telah berlangsung bahkan sejak bulan lalu. Teman-teman dalam skena seni rupa mulai sulit dihubungi, beberapa di antaranya bahkan mulai spaneng dan berlarian ke sana ke mari untuk menyelesaikan deadline karya, tulisan, dan persiapan pameran. Surat menyurat resmi mulai lebih banyak digunakan untuk berhubungan antar teman yang berbeda lembaga. Undangan facebook, grup baru, serta broadcast message di whatsapp mulai banyak bermunculan untuk menyebarkan berita. Setiap sudut kota mulai diwarnai dengan pesta-pesta privat serta tamu-tamu dari luar kota mulai bermunculan.

Dan yang paling seru— pameran-pameran mulai dibuka satu per satu. Setiap hari terdapat minimal dua pembukaan pameran untuk didatangi, pilihan-pilihan dibuka seluas mungkin untuk mengakomodasi setiap selera. Sebagai penonton, saya merasa seperti sedang berada di tengah pasar malam yang riuh ramai dan ceria dengan wajah-wajah yang akrab di sekitar saya. Terdapat banyak wahana untuk dipilih, dinikmati, dan beberapa yang dirasa menyenangkan diulang kembali.

Di lain pihak, beberapa pengamat dalam skena ini mulai menuliskan kegelisahan masing-masing. Di dalam skena seni rupa, mulai digulirkan kegelisahan atas fenomena munculnya ‘pasar tiban’— ruang seni yang selama ini tidak terdengar nama maupun kegiatannya, mulai ada; sedangkan pameran-pameran dengan label fundraising tersebar di ruang seni yang besar, kecil, tua, dan muda. Meskipun demikian, hal tersebut wajar adanya mengingat sifat dasar ArtJog sebagai sebuah art fair – ya memang ini keriuhan pasar seni rupa.

Kegelisahan lain digulirkan oleh seorang seniman senior yang menyatakan kekagumannya atas inisiatif mandiri setiap lembaga seni di Jogja untuk membuat acara masing-masing dengan skala yang berbeda-beda dan ketika dikumpulkan, membentuk sebuah kesatuan besar yang festive. Hampir seluruhnya, tentu saja, terbebas dari dukungan pemerintah. Entah ini hal yang baik (dalam segi kemandirian dari agenda dan propaganda) atau hal yang buruk (dalam hal kurangnya dukungan pemerintah).

Seniman lain merasa bahwa kurangnya peran pemerintah ini merugikan pihak pemerintah daerah sendiri. Bagaimana mungkin acara sebesar ini dan berpotensi mendatangkan tamu dari luar daerah maupun luar negeri sebanyak ini; luput dilihat sebagai potensi pariwisata dan tidak disediakan infrastruktur yang memadai seperti penyediaan moda transportasi yang mudah diakses, misalnya.

Terlepas dari segala rupa uneg-uneg tersebut, saya adalah satu dari sekian banyak orang yang menikmati keriuhan dunia seni bulan Juni ini. Saya menanti kejutan demi kejutan yang mungkin hadir baik dari ruang-ruang seni yang kerap terdengar namanya maupun dari ruang-ruang yang tidak terduga. Saya tidak sabar ingin dimabukkan oleh hingar bingar ini sebelum kemudian memasuki minggu tenang massal dan melakukan detoksifikasi dari seni rupa ini secara bersama-sama dengan sekedar berpiknik ke pinggir pantai atau makan mie rebus sambil nonton film Hollywood, misalnya. Saya penasaran dengan karya monumental indieguerillas yang akan menghiasi bagian depan pagelaran ini, karya sang ‘bintang tamu’ Yoko Ono, serta penerimaan pengunjung terhadap karya-karya interaktif yang ada di sana.

Berbeda dengan tulisan saya dalam merespon ArtJog tahun lalu, tahun ini kebanyakan karyanya konon bisa dipegang dan dimainkan. Mengingat animo dan semangat pengunjung yang begitu besarnya, saya terkagum-kagum dengan keberanian kurator pameran ini dalam menampilkan karya-karya interaktif.

Akhir minggu ini, saya tidak sabar ingin menaiki roller coaster seni rupa yang semoga saja seru dan mendebarkan. Untuk penonton dari luar kota yang menghendaki efek kombo dan kelengkapan melihat pameran-pameran lain di luar ArtJog, pastikan kalian memegang peta ruang-ruang seni kontemporer Jogja (Yogyakarta Contemporary Art Map) yang dilengkapi jalur busway dan gambaran lokasi galeri-galeri tersebut.

Saya rasa di tengah keriuhan ini, setidaknya gaungnya pasti akan menyusup ke dalam minggu tenang adik, kakak ipar, dan mereka yang berada di luar dunia seni rupa. Siapa tahu gaung tersebut mengundang mereka semua untuk turut serta ke dalam pasar malam ini dan menikmati wahana-wahana yang disediakan. Seperti sebuah pasar malam, makin ramai bisa makin seru, bukan?

Mira Asriningtyas

About Mira Asriningtyas

Pendiri Lir- sebuah ruang seni yang ada ruang baca, toko kecil, dan tempat makannya. Saat ini, ia bekerja sebagai penulis lepas bagi beberapa majalah nasional sembari meniti karir sebagai kurator. Tulisan lainnya bisa dibaca di www.miraasriningtyas.com dan catatan visualnya di http://instagr.am/dreamiy/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *