Suara

Secara visual, orang kerap mengidentikkan Yogyakarta dengan gambar Tugu, Kraton, Tamansari, Candi Prambanan, dan—walaupun sebenarnya secara lokasi tidak tepat—Candi Borobudur.

Tentu saja dengan alasan-alasan bahwa tempat-tempat tersebut (kecuali Candi Borobudur), merupakan landmark Yogyakarta. Sementara, Candi Borobudur, walaupun secara administrative lokasinya berada di Jawa Tengah, namun karena secara geografis lokasinya lebih dekat dan mudah dicapai dari Yogyakarta, makas eringkali orang menganggap candi ini terletak di Yogyakarta, dan dianggap salah satu obyek wisata daerah tersebut.

Sementara kalau urusan cita rasa, sudah banyak yang tahu kalau Yogyakarta identik dengan gudeg. Sementara untuk kudapan, bakpia juga tak kalah kondang dan mendampingi gudeg sebagai oleh-oleh khas dari Yogyakarta.

Walaupun banyak yang berpendapat gudeg rasanya terlalu manis—apalagi gudeg kering—sebagai teman makan nasi, dan banyak yang mengatakan bakpia adalah varian dari kudapan yang konon berasal dariTiongHoa, kesan tentang Yogyakarta telah kuat melekat pada panganan ini, dan selalu dicari saat kemari.

Lain lagi jika kita bicara tentang suara yang identik Yogyakarta, yang makin memperkuat suasana Yogyakarta saat kita berada di sini. Mungkin orang-orang akan secara cepat dan mudah mengatakan bahwa suara yang identik adalah Gamelan Jawa. Tapi walaupun tidak sepenuhnya salah, sebenarnya pernyataan itu tidak pula benar seratus persen.

Buktinya, beberapa kawan yang saat ini berada di luar Yogyakarta, terutama yang tumbuh dan besar di Yogyakarta pada tahun 90-an, sebagian besar merasa lagu “Yogyakarta”yang dibawakan Kla Project, adalah lagu yang membuat mereka teringat Yogyakarta.

Pada era yang sama pula, dari mulai pedagang angkringan dekat stasiun tugu hingga di pelosok dusun-dusun Yogyakarta, Campursari, musik yang bisa dibilang ber-“genre baru”makin sering terdengar, dari pagi hingga menjelang pagi lagi.

Pada masa-masa itu, siaran radio yang memutar lagu-lagu Campursari menjadi alternatif hiburan yang didengarkan oleh mereka yang begadang, selain uyon-uyon Gamelan Jawa dan siaran wayang semalam suntuk yang sayup-sayup terdengar mengisi malam-malam di Yogyakarta jika kita berjalan kaki menyusuri jalan kecil di kampung-kampung kotaJogja, maupun dusun-dusun di Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan GunungKidul.

Suara khas Yogyakarta lainnya adalah suara marching band yang kadang terdengar saat dinihari. Ini agakmistis sih, sebab tak semua orang yang tinggal di Yogyakarta pernah mendengarkannya.Tapi tak sedikit pula orang yang pernah mendengarkan suara marching band, yang entah berasal dari mana.

Namun, tahun-tahun belakangan ini, suara-suara khas Yogyakarta tersebut seolah makinj arang ditemui. Belum menghilang sama sekali sih, tapi agak sukar ditemukan. Suara gamelan, wayang, atau Campursari yang dulu sayup-sayup terdengar, saat kita berjalan menyusuri kampung, mulai jarang terdengar.

Suara marching band dini hari—yang oleh sebagian orang disebut“drum band”setan—juga semakin sedikit yang mengaku mendengarkannya. Bersamaan dengan beberapa penjelasan ilmiah yang mengenai fenomena ini.

Sementara lagu Yogyakarta-nya Kla Project? Beberapa tahun lalu mulai sering berkumandang lagi tapi dengan penyanyi berbeda dan tentu saja membawa kesan yang beda pula.

Kemudian, saat ini suara yang bisa diidentikan dengan Yogyakarta kira-kira apa ya?

 

Iwan Pribadi

About Iwan Pribadi

Seorang suami dan bapak, suka sejarah dan membaca, lebih suka lagi menceritakannya pada siapapun yang sudi mendengarkan. Saat ini sedang niat belajar motret. Jangan ragu menyapa lewat @temukonco atau monggo berkunjung ke temukonco.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *