Takjil dan Rumah

Bulan ramadhan bagi mayoritas residen di kota Jogjakarta yang didominasi oleh pelajar dan mahasiswa adalah bulan yang membangkitkan rasa rindu terhadap rumah. Sebagai seorang perantau, suasana bulan ramadhan jauh berbeda dari apa yang selama ini mereka rasakan di rumah. Banyak hal yang absen, terutama hidangan rumahan kala ramadhan.

Beberapa dari kita tentunya memiliki hidangan khas yang disajikan ketika bulan ramadhan, dibuat oleh ibu atau keluarga dirumah. Sajian yang turut melengkapi ‘rasa’ bulan ramadhan sehingga lebih berkesan. Hal ini yang paling dirindukan sebagai perantau dan mereka pun berusaha mencari ‘obat kangen’ tersebut kala ramadhan tiba.

Usaha mencari ‘obat kangen’ ini nampak dalam kegiatan berburu makanan pembatal puasa atau yang biasa disebut juga dengan takjil. Mulai dari berbagai jenis kolak, bubur, kue-kue, lauk pauk hingga es dan minuman.

Beragam makanan minuman khas dari berbagai daerah di seluruh Indonesia akan dijajakan disepanjang jalan selepas pukul 3 sore hingga malam. ‘Pasar kaget’ akan menghiasi ruas-ruas jalan, kawasan sekitar kampus serta area masjid.

Jalan Kaliurang, ‘Jalur Gaza’ di kawasan masjid besar Kauman hingga kampus UGM dipenuhi penjaja dadakan setiap bulan ramadhan tiba. Kecenderungan mencari makanan minuman yang bisa mengobati rasa rindu akan suasana ramadhan di rumah menjadi agenda utama. Sembari menunggu waktu berbuka puasa, jalan-jalan di kawasan pasar kaget membeli berbagai takjil. Setidaknya melalui makanan minuman tersebut mewakili kehadiran rasa ‘rumah’ dalam menutup ibadah puasa.

Sebut lah aneka makan buka puasa khas dari seluruh Indonesia, makan setidaknya akan ada satu-dua yang menjualnya di pasar kaget. Tidak begitu sulit mencari penganan khas daerah, hanya saja mungkin rasanya tak se-otentik di daerah asalnya. Dari bubur, lemang tapai, pisang ijo, pallu butung hingga aneka kue seperti jajan pasar hampir seluruhnya tersedia dalam perburuan takjil.

Selain mencari takjil, kegiatan buka bersama juga seketika menjadi agenda wajib yang menghiasi sejumlah rumah makan dan tempat makan. Namun sebagian besar tentunya lebih mengutamakan mencari suasana rumah, kegiatan buka bersama bisa menjadi salah satu pengobat ‘kesepian’ ramadhan para perantau ini. Jadi, mau ber-takjil apa sore ini?

Nurlina Maharani

About Nurlina Maharani

penyuka warna hijau yang hobi membaca, koleksi mug dan berbagai buku. Selalu antusias jika berhubungan dengan makanan dan jalan-jalan. Penulis fiksi untuk kalangan sendiri, ditengah waktu sebagai pelajar Antropologi masa kini. Masih bercita-cita punya library-cafe suatu hari nanti. | t: @akulina | IG: @aku_lina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *