The Art of Eating Nasi Kotak

Ada rasa penasaran yang tinggi ketika menerima nasi kotakan (nasi yang ditaruh dalam kotak karton lengkap beserta lauknya) dalam sebuah acara maupun hantaran. Petama-tama menebak apa isinya, apakah nasi putih, kuning atau nasi uduk. Lauk pelengkap apa saja yang hadir bersama nasi dalam kotak tersebut; apakah lauk-pauk ikan atau ayam atau daging disertai sayur dan buah atau hanya sekerat lauk telur dengan kerupuk serta buah pisang atau jeruk yang kadang aromanya mempengaruhi nasi.

Dalam sekotak nasi kita dihadapkan dengan keterbatasan jumlah nasi beserta lauk-pauk pelengkapnya. Bagaimana caranya kita mengalokasikan rangkaian menu dalam kotak ini sehingga pas dan nikmat dalam mulut serta perut. Setiap suapannya diharapkan dapat mewakili seluruh isi dalam kotak tersebut.

Beberapa orang memulai dengan lauk yang dianggap paling banyak kuantitasnya, atau yang paling biasa mereka makan sehari-hari lalu beranjak ke lauk yang paling sedikit jumlahnya dan dianggap paling enak. Namun tak jarang ada juga yang menikmatinya dengan cara yang berkebalikan: yang enak-enak dulu baru kemudian yang paling biasa. Cara menikmati bergantung pada varian isi yang ada, sebagian besar berisi nasi ramesan; nasi putih didampingi beberapa lauk seperti ayam goreng, tumis sayur, tahu atau tempe dan kerupuk.

Lain halnya ketika nasi kotak berisi nasi kuning atau nasi lauk kambing seperti hantaran dalam acara aqiqah. Isian nasi kotak yang tematik terasa lebih mudah untuk dinikmati tanpa harus pusing memikirkan alokasi lauk pauk dengan si nasi. Seperti halnya nasi kuning yang notabene dicampur dengan berbagai pelengkapnya baru dinikmati. Atau nasi lauk kambing yang terdiri dari sate bakar dan gule berkuah, dinikmati yang bakar dengan kuah gule sebagai ‘jodoh’-nya.

Seni menikmati nasi kotak merupakan salah satu aspek kulinari yang nampak biasa saja namun sejatinya memiliki pola yang unik: manajemen lauk, cara menikmati hingga mengalokasikan setiap elemen dalam kotak ke mulut adalah pola konsumsi yang tidak akan sama persis pada setiap individu. Sensasi menikmati nasi kotak yang kadang biasa saja bisa jadi istimewa setiap kita menyantap jika dilihat dari bagaimana keseluruhan aspek di nasi kotak memilik peran dan dukungan yang berbeda terhadap proses makan.

Nurlina Maharani

About Nurlina Maharani

penyuka warna hijau yang hobi membaca, koleksi mug dan berbagai buku. Selalu antusias jika berhubungan dengan makanan dan jalan-jalan. Penulis fiksi untuk kalangan sendiri, ditengah waktu sebagai pelajar Antropologi masa kini. Masih bercita-cita punya library-cafe suatu hari nanti. | t: @akulina | IG: @aku_lina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *