Traktiran Ulang Tahun

Menurut saya, dia tidak mengenal dan memahami kebudayaannya sendiri ketika bercerita tentang ulang tahun di negara orang tersebut. Seperti yang kita tahu, pada saat ulang tahun kita memang terbiasa diharapkan untuk merayakan ulang tahun dengan menraktir orang-orang terdekat kita.

Terlepas dari itu dilakukan atau tidak, sebenarnya harapan untuk menraktir ini tidak muncul karena orang-orang di sekitar kita ‘lapar traktiran’. Akar dari harapan untuk traktir-mentraktir ini ada pada falsafah Jawa untuk ‘selalu bersyukur’. Segala anugerah dari Tuhan sudah seharusnya disyukuri. Bentuk bersyukur ini diungkapkan dalam acara syukuran.

Secara tradisional, biasanya acara syukuran ini melibatkan tumpeng dan berbagai sesaji yang merupakan simbol atas doa dan permohonan kita. Dalam acara ini, kerabat diundang untuk ikut merayakan, berdoa, dan berbagi. Kata ‘berbagi’ dalam syukuran menjadi satu kunci lagi untuk melihat acara traktir-menraktir tadi.

Sejak kecil nilai berbagi itu sendiri ditanamkan pada saya. Terutama jika sedang mendapat keberuntungan. Dalam agama juga diajarkan untuk berbagi dalam bentuk zakat, qurban, atau sedekah. Intinya, berbagi adalah hal yang penting ketika kita mendapat anugerah.

Acara ulang tahun hanya salah satu acara syukuran dari banyaknya acara syukuran yang kerap dilakukan masyarakat Yogyakarta. Diperingati satu tahun sekali pada tanggal kelahiran, syukuran ini diadakan untuk mensyukuri telah diberikan waktu lebih lama untuk bersama orang-orang tercinta.

Seiring perkembangan jaman, syukuran ulang tahun disederhanakan sedemikian rupa menjadi acara menraktir teman-teman. Tumpeng, doa, dan pelengkapnya sepertinya bukan lagi unsur esensial dari acara syukuran tersebut. Merayakan dan berbagi lah yang menjadi kunci utamanya.

Jadi, dengan akar tradisi yang seperti ini, apakah masih merasa kasihan dengan orang yang berulang tahun dan tradisi menraktir?

Rizkie Nurindiani

About Rizkie Nurindiani

Penulis lepas yang sedang mendalami ilmu (yang kalau boleh dikatakan sebagai) antropologi kuliner, pecinta ide namun sedikit waktu dan tenaga untuk mewujudkannya, penyuka makanan sambil sedikit-sedikit mulai belajar memasak - semua di antara keriuhan menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *